Kamis, 20 September 2018

READY!

It's been a looooooooooooooooooooooong time for me to write in this blog again!
And there's so many stories I wanna told ya!
Oke, ceritanya pakai bahasa indonesia aja ya. pengen campur-campur bahasanya tapi ntar kayak orang Jaksel, wkwk.
Sejak postingan terakhir tahun 2017, saya ingin membagikan cerita saya di tahun 2018 ini. Sekarang tanggal 14 September 2018 dan banyak sekali hal yang saya alami selama 9 bulan di tahun ini. Mulai dari pertama kalinya mengalami depresi, tiba-tiba ketemu mantan gebetan, sampai ikut lomba ke Jakarta!
Kamu nggak salah baca. Saya memang mengalami depresi beberapa bulan lalu dan sekarang sedang dalam proses healing dan dealing dengan diri saya. Saat awal tahun 2018, saya resmi berada di semester 8 dan sibuk-sibuknya mempersiapkan dan menyusun tugas akhir kuliah alias skripsi. Mulai dari pemilihan judul, acc judul oleh pembimbing 1 dan 2, konsul, konsul, konsul lagi, acc, ujian proposal, perbaikan, turun penelitian, bimbingan, konsul lagi, lagi-lagi konsul, acc, ujian hasil, perbaikan, konsul, dan sekarang saya sedang menunggu skripsi saya di acc untuk maju ke sidang skripsi (ada 3 ujian: proposal, hasil dan skripsi). Doakan saja semoga lancar ya. Amiinnn.
            Setiap tahap untuk tugas akhir ini nggak mudah. Dealing dengan kedua dosen pembimbing dan penguji rupanya cukup membuat saya lelah secara fisik dan emosional. Ini bukan tentang isi skripsi kamu bagus atau tidak, tapi bagaimana kamu mengikuti kemauan dosen apalagi yang berbeda pemikiran. It’s hell, dude. Itu tuh seperti kamu harus ikutin setiap kemauan atasan yang ada di tempat kerja kamu (I don’t know, I don’t have any jobs yet). Karena dealing yang cukup susah itu yang membuat saya terlambat menyelesaikan skripsi. Tapi alasan utamanya bukan hanya itu saja sih. Butuh ketekunan, fokus dan kerja keras. Saya terlalu santai dan malas saat selesai ujian proposal, sehingga terlambat dalam mengejar ujian hasil berikutnya. Rentang bimbingan ke setiap ujian bisa digambarkan seperti ini:

Bimbingan (Feb-maret) -> Ujian proposal (awal april) -> Perbaikan proposal (akhir april) -> bimbingan penelitian (tengah Mei) -> penelitian dan bimbingan (mei-juni) -> Ujian hasil (Awal Juli) -> Perbaikan hasil ( tengah Agustus-September) -> Now waiting for Skripsi.

Kamu bisa lihat, ujian proposal (april) ke ujian hasil (juli) sangat jauh rentangnya. Dan dari ujian hasil (juli) ke skripsi (belum acc) sudah mau lebih dari 2 bulan. Tapi bukan itu intinya, karena saya yakin kamu sudah menguap berulang kali membaca cerita saya di atas. Setelah ujian hasil, saya mengalami depresi sekitar awal juli hingga awal agustus. Kalau kamu belum mengerti apa itu depresi, kamu bisa search google dulu baru balik kesini dan baca lanjutannya. Saya kesulitan menjelaskan detailnya, tetapi akan saya coba menjelaskan deskripsinya dengan jelas. Depresi adalah suatu hal yang nyata. Terlebih lagi ini pertama kalinya saya mengalami gejolak emosi yang luar biasa. Tidak seperti saat masa puber, dimana emosi meledak-ledak tanpa alasan yang jelas, saat depresi, semua emosi menjadi satu dan kamu tidak bisa mendeskripsinya dengan kata-kata. Mungkin kamu bertanya-tanya kenapa saya bisa depresi. Jawabannya: mungkin karena skripsi, mungkin juga karena emosi-emosi lain yang telah saya pendam, yang akhirnya meledak dan membuat saya depresi. Saya tipe yang menahan dan memendam emosi negatif saya, bahkan cenderung menolak ketika emosi negatif itu datang. Bisa dikatakan, saya lari dari masalah. Membuat seolah-olah waktu akan menyelesaikan semuanya, yang penting main dulu, senang-senang dulu, dan tanpa sadar saya menaruh bom waktu dalam diri saya sendiri selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya meledak untuk pertama kalinya. Pada saat saya sedang sibuk dan pusing dengan skripsi saya, saya dihadapkan lagi dengan konflik internal dalam keluarga saya. Hal yang membuat saya terluka bertahun-tahun lalu, kini terbuka lagi, teringat lagi bagaimana sakitnya. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada menghadapi kalimat menyakitkan dan ekspektasi keluarga terhadap diri kita. Ekspektasi untuk mendapat nilai terbaik, lulus dengan nilai memuaskan, lulus tepat waktu, mendapat pekerjaan yang terbaik, mendapat gaji yang banyak, menjadi yang terbaik diantara terbaik, hingga akhirnya kita menjadi terlalu keras dengan diri kita, memaksa dan menekan diri kita untuk menjadi yang terbaik. Hal yang kolot sebenarnya. Karena membuat kita terjebak dalam kotak-kotak benar dan salah, hitam dan putih. Karena tidak ada ukuran untuk menjadi yang terbaik dalam hidup ini. Tidak ada jawaban yang tepat untuk menggambarkan yang terbaik itu seperti apa. Dulu, saya bisa dengan mudahnya menghindar dari keluarga begitu terjadi konflik dan selisih paham. Dulu saya sangat bersyukur dengan jam sekolah yang 8 jam serta ditambah les 3 jam. Setidaknya ada rentang waktu dan aktivitas di sekolah yang membuat saya melupakan pikiran-pikiran negatif di rumah. Semua pikiran negatif bisa saya tinggalkan di rumah dan tergantikan dengan aliran energi positif dari teman-teman saya di sekolah. Hal yang dulu terlihat mudah ketika saya menghindarinya, kini terasa sulit. Saya tidak bisa lagi menghadapinya. Seolah-olah seluruh dunia saya runtuh. Saya melaksanakan ibadah tetapi hati saya kosong. Hampir setiap hari dan setiap malamnya saya menangis terus menerus di pojok kamar saya. Semua hal terasa sia-sia. Semua hal terasa tidak berguna. Hingga saya tiba pada satu titik ingin mengakhirinya. Pikiran ini kemudian datang menghampiri, “kenapa aku tidak mati saja? Toh tidak ada yang peduli. Semua sibuk dengan kehidupannya sendiri. Semua tidak merasakan ruginya kalau aku mati. Justru tidak ada aku, semua pasti baik-baik saja. Aku hanya menyusahkan orang lain. Lebih banyak untungnya kalau aku mati daripada tetap hidup.” Hal-hal negative yang terus mendorong saya ingin mati daripada tetap di dunia ini. Saya bahkan memasang beberapa tanda di instastory saya. Saya tidak tahu kenapa diri saya melakukan itu. Belakangan saya tahu, saya ingin diselamatkan. Sekecil apapun respon teman-teman di social media ternyata berpengaruh terhadap mental dan psikologis saya. Dan saya tahu itu nggak sehat. Teman lama saya, memberikan saran pada saya untuk memfollow akun ig yang ternyata mengenai psikologis dan curhatannya. Sangat bagus, menurut saya. Setidaknya saya bisa mengeluarkan unek-unek saya pada akun tersebut, walaupun bisa dikatakan saya menceritakan keresahan saya pada orang asing. Baru-baru ini, saya menonton Simon Sinek dengan temanya Generasi Milenial. This show was so good. Kamu bisa cek lamannya disini. Cuma 15 menit kok videonya.

  
Hasil yang saya tonton, saya kembali berpikir, ternyata saya memang termasuk generasi milenial. Percaya diri yang rendah, tidak sabar, hubungan dengan lingkungan social tidak begitu intim dan tidak bermakna. Saya harusnya bisa mengubah mindset saya. Saya punya teman-teman dan (setidaknya) keluarga yang membantu saya. At least, saya tidak sendiri di dunia ini. Saya mulai membaca artikel dan menonton youtube berkaitan dengan kesehatan mental, psikologis, kesehatan hubungan dan memperbaikinya, dan bahkan bagaimana bertindak sebagai generasi milenial. Saya terapkan dalam diri saya, pada orangtua saya, karena mereka yang paling dekat. Saya tidak bisa mengontrol kelakuan dan sikap mereka, tetapi setidaknya saya bisa mengontrol sikap dan perilaku saya, yang membuat orangtua saya sadar dan behave untuk tidak memperlakukan saya seperti tidak tau apa-apa lagi. Saya sangat bersyukur, ternyata yang terjadi dalam pikiran-pikiran saya tidak nyata. Saya memang orang yang pesimis dan curigaan terhadap orang lain, tapi sekarang saya berusaha untuk menurunkan kadar pesimis dan kecurigaan saya (walaupun memang sering tepat dugaan saya, tapi tidak baik juga bagi kesehatan mental saya). Saya memutuskan untuk mencoba percaya dengan diri saya lagi, bahwa orang-orang tidak sepenuhnya sempurna, terkadang mereka berbuat salah dan menyakiti perasaan satu sama lain. Oleh karena itu, saya berusaha untuk tidak melihat dan menilai segala sesuatu sebagai hitam diatas putih. Tidak ada yang benar, dan tidak ada yang salah. Hidup ini abu-abu. Saya bisa jahat dan bisa juga baik. Orang-orang bisa jahat dan bisa baik. Yang harus dilakukan hanya perlu percaya satu sama lain, tanpa ekspektasi apapun, tanpa mengkotak-kotakkan sikap dan perilaku orang lain, apalagi diri sendiri. Mencintai diri apa adanya. Saya berusaha dan masih terus berusaha memperbaiki diri, menjadi versi terbaik dalam diri saya, dan tetap jatuh cinta pada diri saya. Saya akhirnya mulai mencoba menjalin persahabatan dengan diri saya, percaya pada diri saya sepenuhnya dan menjalin hubungan sosial yang baik dengan teman-teman saya. Memang tidak mudah melakukan semua yang saya sebutkan diatas. Tapi tidak mudah, bukan berarti tidak bisa. Dan saya masih terus berusaha. Yang diperlukan hanyalah kesabaran untuk tidak menyerah pada diri sendiri dan waktu yang setidaknya sedikit menyembukan luka lama.
Hell! Cukup sudah monolog saya yang segitu deep nya. Saya sangat mengapresiasi kalian yang sudah menyempatkan waktu kalian yang berharga untuk membaca tulisan saya. Now, let’s move to the 2nd topic. Saya ketemu mantan gebetan. Hahaa. Ini bukan sekedar “crush” biasa, tapi bisa dibilang first crush waktu zaman SMA dulu. Bisa dibilang saya cukup telat sih. Soalnya rata-rata teman-teman saya mengalami first crush atau first love ketika masih SD atau SMP, which means saya telat banget baru ngerasain hal tersebut di SMA. Alasannya tidak ada sih, karena saya mungkin dari kecil terlalu fokus dengan kehidupan saya dan apa yang saya kerjakan, jadinya saya tidak pernah menganggap satupun teman laki-laki saya sebagai seseorang yang harus saya sukai. Dan saat masa SMA datang, tibalah perasaan yang bikin mual itu. Hahaa, saya merasa agak geli bagaimana yak karena jujur dan terbuka dalam tulisan saya kali ini. Saya saja baru pertama mengalami rasa suka segitunya, sehingga saya tidak sadar dengan perasaan saya ini. Awal kelas 1 SMA hanya berbasa-basi untuk berteman akrab saja, tidak ada niat atau perasaan lain. Kelas 2 SMA, OMG this first crush ngalamin masa puber dan tumbuh tinggi yang melebihi tinggi saya. Saya agak kaget juga begitu liat perubahannya setelah libur 2 bulan sebelum kenaikan kelas. Saya makin akrab dengan dia, bahkan dulu sms dan chat via whats*pp semakin sering. Saya nggak ngeh juga. Lalu saat kelas 3 SMA, I realized it. Like, damn! Ternyata gue suka sama dia! Kok bisa? Saya juga nggak tau, kan namanya rasa suka bisa terjadi kapan dan dimana saja hahaa. Well, singkat cerita, saya sudah tidak, mungkin jarang melihatnya ketika lulus SMA dan ternyata kuliah di universitas yang sama. Untungnya beda fakultas. Masih sering lihat statusnya di social media. Masih sering sapa haha-hihi di chat juga. But just it. All of it become different. All of us become different. Bukan salah siapa-siapa sih. Toh perasaan manusia berubah, karakter dan sikap berubah, karena saya sendiri berubah selama 4 tahun di bangku kuliah, mencoba menjadi versi terbaik diri saya dan mencoba berbagai hal, pandangan terhadap dunia berubah, sikap dan perasaan berubah, that’s it. Kita terus bertumbuh dan maju. Dan saya tidak menyesal sedikitpun dengan semua hal yang terjadi dalam diri saya. Dan singkat kata, kita ketemu lagi, saat teman saya sidang skripsi, dan ternyata teman saya itu temannya teman si crush ini. Iya, agak bingung bacanya kan? Wkwk. Dan pas ketemu lagi, ternyata saya senang banget, seperti ketemu teman lama! Rasanya seperti ketemu teman SMA yang lain yang sering saya temui setiap kali mereka pulang Kupang. Lega rasanya. Ternyata first crush saya tidak begitu buruk amat. We feel it, we accept it, we deal with it, and then we grow up as a better version of ourself! J Saya jadi makin bersyukur dengan hidup saya, setidaknya saya selalu merasa senang dan bahagia saat bertemu teman lama, bahkan hubungan saya dengan teman-teman saya yang sekarang juga baik.
Oh well, yang terakhir, topik ini menurut saya nggak terlalu personal juga buat saya, jadi saya hanya ikut lomba dengan teman saya, kami satu tim dan semua akomodasi full ditanggung sama yang buat lomba ini. Sibuk juga karena banyak yang kami persiapkan selama 3 hari itu, mulai dari ikut workshop, seminar, kegiatan lainnya dan terakhir presentasi ide kami yang sudah kami kembangkan. Saya sebenarnya kurang begitu mengerti, saya hanya ikut saja, yang ternyata menambah pengetahuan bagi saya, dan juga menambah jaringan social, tentunya. Saya sangat berterima kasih dengan teman satu tim saya itu yang mengajak saya mengikuti lomba tersebut. Banyak hal yang saya pelajari, termasuk untuk tidak membuang waktu merendahkan diri sendiri dan harus lebih banyak mengeksplorasi potensi diri saya sendiri. Thank you so muchJ
Terima kasih sudah baca artikel saya kali ini! Cukup panjang ya. Terima kasih sudah membacanya hingga selesai. Sampai ketemu di tulisan berikutnya!J
Now, we still have a long journey in the future. Are you ready to face it? no matter it would be good or bad, I'll through it and I am READY.