Minggu, 22 Juli 2018

22/7/2018

It’s already 4 years in college! Soooooo many things I’ve learned. Mulai dari yang cuek hingga jadi peka tingkat dewa. Saya memang awalnya ingin merasakan jadi orang yang peka itu bagaimana. Orang yang hold so much grundge and self pride itu bagaimana. And, I feel it now. It’s sucks. I don’t want it again. Terlalu peka dan terlalu mempertahankan ego itu tidak baik. Ada satu titik dimana saya bisa merasakan semua hal yang ada dan emosi saya tercampur hingga saya merasa mual dan berpikir untuk mengakhiri hidup di dunia ini. Saya berpikir berulang-ulang kali bagaimana jika saya mengakhiri ini dan membayangkan apa yang terjadi. Skenario apa yang terbaik yang bisa memuaskan hasrat bunuh diri. Tapi kemudian saya tidak menemukan jawaban yang memuaskan. Saya bahkan tidak menyangka. Stress karena benda secuil skripsi ini harusnya tidak mempengaruhi saya. Kenapa saya begitu tertekan? Bukannya setelah bebas dari skripsi dan wisuda, saya bisa melakukan apapun yang saya inginkan? Kenapa siksaan sesaat ini saja membuat saya cepat menyerah? Kenapa saya begitu lemah sampai membuat saya menangis setiap malam? Lalu saya tertegun. Ini bukan soal faktor luar. Tetapi keputusan saya yang membuat diri saya seperti ini. Keputusan saya membiarkan Bapak dan Ibu menyuruh saya untuk cepat menyelesaikan akademik dan berharap banyak atas apa yang saya lakukan. Keputusan saya yang membuat saya berekspetasi tinggi terhadap diri saya sendiri dan tidak mengukur kemampuan diri. Keputusan saya yang berujung pada keinginan untuk bunuh diri secara terus-menerus. Bunuh diri itu dosa. Saya tahu. Seandainya saya ateis, pasti saya sudah mati sekarang. Punya agama saja saya masih rapuh, bagaimana kalau tidak punya?

Ini hanya keinginan sesaat dan akan muncul lagi di masa depan. Sesaat setelah ini, kehidupan nyata akan benar-benar terjadi. Semua masalah akan datang bertubi-tubi, dan keinginan untuk mati akan datang lagi. Entah apa ini namanya. Lingkaran hidup yang lucu atau menyedihkan.

Saya harus memutus hubungan dengan banyak orang (termasuk keluarga) agar emosi dan mental saya stabil. Saya harus lebih memikirkan diri saya agar bisa mengerjakan dan mencapai apa yang saya inginkan. Masih banyak hal yang ingin saya lakukan di dunia ini. Masih banyak hal-hal baik yang ada di dunia ini, saya hanya belum melihatnya. Masih banyak orang baik di dunia ini, saya hanya belum menemukannya. Masih banyak tempat-tempat menarik dan indah di dunia ini, saya hanya perlu tekad yang kuat untuk keluar dari kubangan lumpur ini dan beranjak pergi ke dunia luar dan membuka wawasan lebih banyak. Setelah ini, setelah penderitaan skripsi dan tekanan keluarga, saya akan keluar dan pergi jauh. Saya hanya akan kembali ke rumah sebentar (hanya pada saat liburan saja). Saya akan bertemu banyak orang dan menjadi lebih bersimpati, menanggalkan ego dan emosi negatif yang menjijikkan ini. SAMPAI SAAT ITU TIBA, AYO BERUSAHA BANGKIT DAN SELESAIKAN SEMUA TANGGUNG JAWAB! TINGGAL SELANGKAH LAGI DAN KAMU AKAN BEBAS! BERJUANGLAH!


Minggu, 01 Juli 2018

????

So I just suddenly remember him. 4 or 5 years ago, don’t know back then why there’s so much thoughts about it. Maybe it’s just because I didn’t had a chance to said it. Even now. Is it me, him or time that didn’t want to deal with it. I thought time would fix it. I thought someday everything would be alright. But I’m wrong. It’s just make the scars getting bigger and bigger. Don’t know how to describe it. Don’t know how to fix it. It’s just... complicated.

So many scenario played in my head. I just wondered, if I told him, would he smile and say ‘yes’? or would he just stare at me dissapointly, like ‘why now? Why you didn’t told me 4 or  5 years ago when I just so into it? When we both just so into it?’. That’s what I’ve been afraid. I can’t bear to heard the answer that would out of his mouth.

Maybe I just hesitated. And so he did. Maybe we just hesitated and scared about what’ll happen next to us. Or maybe (what I’ve been afraid of) he were not so into me. I don’t know since I didn’t ask him yet. We knew we were just kids back then. We just want to played around like the others. But that was the first and real crush I’d ever felt in my life. And that was hit me so hard. But still, he didn’t know. We didn’t know because we’re so busy hesitant about all those feelings. All I know is that he got me. Right there. But I missed the timing. ‘Cause I just fucking introvert, fucking stupid kid, and fucking love him. That’s all what I knew back then.

I don’t know is it just me, or what but I hope something would turn back the time to that day, so I would said those words to him. Or maybe hope to had a chance now, or tomorrow, or someday to said  those words. To said, ‘I ever had a first crush in high school. The first and the real one. That’s you. The one that always made me smiled everytime I saw your face in school. The one that always made my mood up whenever you showed up in front of my class. And the one that always called my name differently. That’s you.’