Jumat, 18 Februari 2022

Setiap hari bisa jadi hari baik

“Setiap hari, bisa jadi hari baik.”

Somehow, ada aja yang bikin down dalam hidup. Kadang, bisa berakhir dengan putus asa, hilang harapan, hilangnya semangat buat hidup. And then one day, you start of thinking about suicide.

Awalnya Cuma kepikiran sekali, dua kali. Lama-lama pemikiran bunuh diri semakin menguat dari hari ke hari. Jika tidak ada orang, setidaknya satu orang yang peduli pada diri ini, maka rasa kesepian dan putus asa itu makin menguat. Apalagi jika tenggelam dalam pikiran, di kamar yang sempit ini.

My dad, pernah ngomong begini, saking aku betah banget di kamar. “Jangan terlalu lama dalam kamar, nanti kalau banyak pikiran, pusing sendiri, mati sendiri di kamar.”

Awalnya aku tidak menganggap itu serius. Bapak ngomong apa sih? Gak jelas. But… when you start growing older… omongan orangtua kadang jadi make sense di telinga. Mungkin karena mereka sudah menghadapi yang namanya kesepian itu kayak gimana. It’s fucking sucks.

Kesepian dan sendiri itu hal yang berbeda. Sendiri itu hal yang kita ciptakan, suasana tenang dan sepi yang kita mau untuk melakukan hal tertentu, misalnya konsentrasi buat belajar dan kerja. Kalau kesepian, it’s about feeling. Perasaan yang benar-benar mempengaruhi kondisi mental dan fisik kita.

Perasaan yang semakin lama aku coba tolak, coba control, tapi malah memperparah kondisi mentalku. Menolak fakta bahwa perasaan kesepian aku hanyalah semu dan sementara. Mengatakan, “Ah, nanti juga perasaan ini pergi lagi. Gapapa, santai aja.”

Tapi nggak pergi-pergi. Aku coba control, “hei, waktunya kerja. Selesaiin kerjaan. Deadline tugas kuliah juga belum selesai. Kerjain, jangan galau-galau nggak jelas.”

And it makes it worse. Sebenarnya, kalau kita nerima aja perasaan yang datang, baik perasaan senang maupun sedih, then it’s fine. Tapi kalau kita menolak emosi negative, hal itu memperparah kondisi mental. Dengan menerima datangnya emosi negatif, dapat membantu membersihkan jiwa, jadinya kita bisa semangat dan energy positif datang lagi.

But… when you live in the big city, alone, penuh deadline kerjaan dan tugas kuliah, dan berulang kali drop. It’s fucked up.

One day you start wondering, when all of this end? When all of this stop? Should I quit? Should I stop? Should I stop breathing?

Hari-hari dipenuhi tangisan. Setiap malam. It’s still fucking hurts.

You wondering when will you dead? Will you die alone?

I want to die…

But I want to live too.

Then one day, I start sitting in the balcony in the 3rd floor. Di kosan. Pas sore hari.

Somehow, sunset yang kelihatan dari lantai 3 kosan keliatan indah banget.

Rasanya tenang…

23 tahun hidup di kota kecil yang bisa lihat sunset dari mana aja, buat aku merasa biasa aja.

But… dengan kondisi mental dan keadaan yang berbeda, somehow sunset di kota besar itu jadi terasa berharga.

Mungkin… kita terlalu banyak melihat dibawah, dibandingkan melihat keatas. Seperti langit yang cerah di pagi hari atau sunset di sore hari sehabis pulang kerja.

Mungkin… hal-hal kecil bisa terasa berarti kalau disadari. Seperti menu makanan yang dimakan hari ini.

Mungkin… we can hang in there. Berpegang pada sesuatu… apapun itu… Langit cerah di pagi hari, menu makanan di siang hari, sunset di sore hari, dan cahaya lampu kota di malam hari.

I… was so lucky. I am still so lucky. My mom really supports me whatever my decision is. And I’m thankful to have her.

Aku bakal balas kebaikan yang diberikan ibu, saudara, maupun teman-teman yang udah ngasih support. walaupun hanya dengan satu panggilan telepon atau video call, it really means a lot to me.

I feel really thankful.

And hei! Sekarang aku lagi lihat sunset pas ngetik ini.

Kalau hari itu cerah dan bisa lihat sunset, bilang aja ke diri sendiri, “It’s too beautiful to die today.”

Kalau hari itu hujan, langit gelap banget, bilang “langit lagi sedih, ntar aja matinya.”

Hari itu makanannya enak, bilang “Makanannya enak, ntar aja mikir suicidenya.”

Kalau makanannya nggak enak, bilang “makanan nggak enak, jadi besok harus bisa dapet makanan yang enak. Jadi jangan mati dulu hari ini.”

Somehow, apapun itu, hal sekecil apapun, berpeganglah pada hal itu. Bahkan walaupun kamu nggak percaya Tuhan, make something that you can hold onto.

I know it’s hard. It’s fucking hard. It never been easy.

So please, hang in there.

Sampai umur dua puluhan ini habis,

Sampai kita berumur 30-an,

Sampai kita berumur 40-an,

Sampai kita berumur 50-an,

And somehow we will still be alive until 60.

I just hope and want you to stay alive.

Like what I said before, “Setiap hari, bisa jadi hari baik.”