Selasa, 22 Juli 2014

TEMAN(LAMA) ?


Marhaban Ya Ramadhan..
umat Islam telah memasuki bulan ramadhan dan saat ini sedang menjalani ibadah puasa.. semoga amal dan ibadah yang kita jalani dibulan ini, diberkahi dan dirahmati oleh Allah SWT. Amin Ya Rabbal Alamin..
bicara tentang ramadhan, beberapa hari yang lalu sebelum bulan ramadhan, aku menerima sms dari teman(lama)ku, yang tidak ingin aku sebutkan namanya disini (temanku ini cewek ya, bukan cowok. jadi jangan salah paham "-_-). karena sudah lama tidak saling menghubungi, percakapan yang kami lakukan sangat canggung. hanya seputar menanyakan kabar dan kemana kita akan melanjutkan kuliah. tiba-tiba saja tatapanku tertuju pada jam weker kecil berwarna hijau diatas meja belajarku. peristiwa 3 tahun yang lalu, saat kami masih menjadi teman dekat. sepertinya kami menghabiskan 3 tahun di smp bersama-sama. mungkin karena kami sekelas, jadi sering ngobrol bareng. apalagi rumahnya satu kompleks denganku. setelah aku menutup perbincangan kami yang canggung, aku menatap kembali jam weker hijau itu. jam mungil yang dihadiahkan oleh temanku ini saat aku berulang tahun yang ke-13. aku lebih sering melihat waktu di jam weker ini daripada jam dihandphoneku. mungkin karena warnanya yang hijau terang selalu menarik perhatianku.
aku jadi ingat setiap pulang sekolah, kami bersama teman-teman lainnya sering berhenti di perpustakaan daerah hanya sekedar melihat-lihat atau membaca beberapa buku yang tidak kami mengerti isinya. kadang kami pergi ke toko buku hanya untuk melihat novel terbaru kesukaan kami dan menabung uang bulanan habis-habisan untuk sebuah novel. kami paling aktif nongkrong di warnet sehabis pulang sekolah dengan alasan mencari tugas, walaupun lebih banyak waktu digunakan untuk bermain di social media seperti facebook dan twitter. lebih sering lagi ketika hari pendek, seperti jumat dan sabtu, atau hari pendek yang mendadak, kami pergi melihat barang-barang unik yang dijual di teddys, pusat perbelanjaan yang ramai di sepanjang pinggir pantai.
lebih banyak waktu yang kami habiskan bersama. jalan-jalan, bermain, belajar kelompok, piket, tugas, contekan, ulangan...
aku ini bukan hanya bodoh dalam hal pelajaran. tapi juga tidak mau berusaha untuk belajar. aku lebih sering memintanya mengajariku. dan dengan sabar dia mau meluangkan waktunya hanya untuk keegoisanku.
tatapanku menerawang, menembus kaca jam weker mungil itu. bertanya-tanya, jika saja aku dan dia masih berteman baik hingga sekarang, apakah aku akan menjadi 'aku yang sekarang'? atau tetap seperti 'aku yang dulu'? anak ingusan yang egois dan selalu merasa benar walaupun tahu dia salah.
apakah dia akan menjadi 'dia yang sekarang' jika masih berteman denganku? anak yang sabar dan tetap diam meski aku teriaki. rasanya tidak.
ternyata apa kata orang itu ada benarnya, 'terkadang kita perlu keluar dari lingkaran pertemanan untuk mengubah diri menjadi lebih baik lagi'. tapi banyak juga yang sudah menjadi lebih baik, tidak akan mau kembali ke lingkaran yang lama. mereka akan mencari atau membuat lingkaran pertemanan yang baru. mungkin menurut mereka, 'buat apa kembali ke lingkaran lama yang jelas-jelas sudah tidak berguna lagi bagi diri yang sudah lebih baik ini?' atau 'buat apa berkumpul dengan orang-orang bodoh seperti mereka, padahal sekarang aku sudah lebih pintar dan cerdas dari mereka?'
pemikiran seperti ini yang kadang-kadang muncul dalam lingkaran pertemanan kami.
mungkin aku yang terlalu egois ini menendangnya keluar lingkaran. mungkin juga dia tidak tahan dengan sikapku dan keluar dari lingkaran pertemanan bodoh ini. pada akhirnya aku hanya bisa menunjukkan wajah yang bodoh ketika ditinggalkan seorang teman.
kalau saja aku dan dia tetap berteman hingga sekarang, pasti aku tetap cildish dan tidak akan pernah merubah sikapku menjadi lebih baik seperti sekarang.
kalau saja aku dan dia tetap berteman hingga sekarang, pasti dia tetap bungkam, hanya memendam amarahnya dalam diam, dan tidak pernah berani berkata 'tidak' dengan tegas.
aku menyesal begitu mengingat pertemanan kami yang terus merenggang, tapi aku lebih banyak merasa bahagia begitu tahu kami akan mencapai tujuan masing-masing dan menjadi lebih baik lagi tanpa harus membantu dan menyusahkan satu sama lain.

tik...tik...tik...

bunyi jam weker hijau menyadarkan lamunanku.
Subhanallah.. hikmah di bulan Ramadhan yang selalu aku syukuri, karena aku punya waktu dan kesempatan merenungkan kembali sikapku yang dulu.
mungkin inilah baiknya. meski pertemanan kami merenggang, dan mungkin juga jarak dan waktu akan memisahkan. bisa jadi ingatanku tentangmu perlahan mulai memudar. aku berharap pertemanan yang pernah kita jalin bisa terasa menyenangkan begitu dikenang.
satu hal yang pasti, Kamu Teman yang Berharga, yang pernah aku miliki.

tik..tik..tik..

terdengar lagi bunyi jam weker mungil ini, sebelum aku beranjak pergi.
bunyinya terasa menenangkan, membuatku tersenyum.

tik...tik...tik...

Jumat, 04 Juli 2014

Siap, Sedia, Mulai!

aku tidak tahu apa passionku yang sebenarnya.
saat pemilihan snmptn, ayahku menganjurkan untuk masuk jurusan akuntasi, aku ikut saja. yang aku tahu, mungkin hanya sedikit peminat dijurusan itu. jujur saja, saat ayahku begitu mau aku masuk kesitu, aku merasa sedikit tertekan. aku yang awalnya memang ingin masuk situ, jadi tidak mood lagi. mungkin karena paksaan ayahku. atau mungkin aku tidak punya minat sedikitpun dijurusan itu. mungkin juga karena motivasiku kurang. entahlah.
yah, saat aku akan memilih, banyak pertanyaan dalam benakku. kenapa harus di universitas itu? kenapa harus dijurusan itu? kenapa harus memilih jurusan yang sudah jelas masa depannya? memangnya jurusan lain itu tidak jelas masa depannya? belum tentu, kan?
aku tidak memikirkan apa yang akan terjadi padaku setelah memilih jurusan yang aku inginkan. tidak peduli kalau masa depannya jelas atau tidak. aku hanya ingin kuliah dijurusan yang aku sukai. tanpa paksaan.
waktu itu aku berpikir karena ayahku pernah dijurusan yang hampir sama, jadi mungkin aku bisa. waktu itu aku berpikir ayahku menginginkan aku masuk disitu. waktu itu aku berpikir mengikuti keinginan ayahku akan membuatku bisa lolos, karena aku tahu ia mendoakanku. waktu itu aku berpikir mungkin lebih baik dan menyenangkan kalau aku bisa tinggal dengan kakakku lagi karena diuniversitas yang sama. semua pikiran bermain dikepalaku, sampai aku lupa, sebenarnya apa yang aku inginkan untuk diriku sendiri.
ternyata semua orang sedang khawatir dengan diriku. mereka khawatir aku mengerjakan hal yang tidak aku cintai. sedangkan aku tetap stuck dengan pikiranku sendiri.
ternyata motivasiku memang kurang. aku hanya ingin diuniversitas yang sama dengan kakakku agar bisa dekat dengannya kembali.
ternyata aku mengikuti kemauan ayahku bukan karena ia memaksaku, tapi karena aku yang terlalu sombong dan ingin terlihat seperti anak yang patuh dengan memilih jurusan itu.
ternyata aku tidak melakukan untuk diriku sendiri. aku hanya ingin melakukan untuk ayah dan kakakku. aku bahkan mengabaikan ibuku yang sangat menyayangiku.
dalam diriku, disatu sisi aku berharap bisa lolos jalur snmptn, tapi disatu sisi berharap aku tidak lolos. sisi yang satu berteriak, 'loloskan aku jalur itu! agar aku bisa melihat ayah dan ibuku bahagia! agar aku bisa bersama dengan kakakku lagi! agar semua orang tahu aku bukan anak yang bodoh! agar semua orang tahu bukan hanya kakakku saja yang bisa, tapi aku juga!' kemudian disisi yang satu lagi berteriak lebih keras dan terdengar memohon, 'aku tidak ingin masuk kesana! kalau aku masuk kesana apa aku bahagia? rasanya salah kalau aku memilih jurusan itu! aku tidak memilih yang aku sukai! bagaimana bisa aku lolos disana? aku ingin melakukan demi diriku sendiri. aku ingin melakukan dengan sepenuh hati, jiwa dan raga jika aku lolos dijurusan yang sebenarnya aku inginkan!'
saat pengumuman snmptn, dan aku tidak dinyatakan lulus, aku menangis sejadi-jadinya. aku seperti jatuh terlalu dalam. karena aku merasa menunjukkan diriku yang paling bodoh.
airmataku rasanya terlalu banyak. mungkin karena aku menahannya selama ini dan menumpahkan perasaanku.
Lalu tiba-tiba saja hatiku terasa lenggang. rasanya begitu ringan, dan ada hawa hangat yang menyelimutinya. muncul perasaan senang dan bahagia dalam diriku, yang aku sendiri tidak tahu apa alasannya. rasanya aku bisa melakukan apa saja. aku seperti akan melakukan perubahan dalam diriku. tiba-tiba saja ada bisikan yang aku yakin berasal dari diriku sendiri, "inilah permulaannya. awal dari segalanya. kau belum berjuang, maka berjuanglah dari sekarang.'
dan aku merasa yakin inilah awalnya. awal yang aku inginkan. begitu penuh rintangan dan tantangan yang akan kuhadapi. beginilah seharusnya diriku, yang tidak mau jalanku terasa begitu mudah. karena menurutku jalan yang panjang dan sulit akan mendapat hasil yang memuaskan dan bertahan lebih lama daripada jalan yang mudah.
seperti dikomando, seluruh saraf dalam tubuhku meniup peluit secara serentak. menandakan semua sudah siap di garis start. aku belum pernah seyakin ini dalam hidupku. bahwa aku akan baik-baik saja dan akan lebih baik lagi setelah ini. peluit berbunyi untuk kedua kalinya, menandakan semuanya bersedia. kakiku terasa gatal dan ingin berlari secepatnya. secepat roket tanpa berhenti dan tanpa menoleh kekanan-kiri lagi. kini aku bisa mendengar bunyi peluit untuk ketiga kalinya, menandakan MULAI-nya. inilah saatnya. ya, inilah awalnya!
perjalanan dimulai!



 *this post was written by blogger on 6th June 2014*