Minggu, 02 Desember 2018

Bersyukur


Baru-baru ini saya terlibat percakapan dengan seorang teman, sebut saja si F, dimana pembicaraan kami kali ini tidak seperti biasanya. Bisa dibilang lebih rumit dan deep tentang hidup yang kami jalani sampai titik ini. Percakapan kami sampai pada saat saya memberi tahu dia mengenai blog saya ini yang hanya beberapa teman saja yang tahu. Teman saya ini sampai berceletuk, “isinya seputar patah hati dan tentang pemikiran diri sendiri ya”. Yup! Betul. Saya sadar pemikiran seputar diri saya sering saya tuangkan dalam blog ini. Hanya satu-dua artikel yang saya tulis mengenai keluarga atau teman-teman saya. Tapi jika dipikirkan lagi, bahkan setelah ngobrol dan diskusi panjang dengan teman saya ini, ternyata hidup saya tidak begitu buruk-buruk amat. tidak begitu “mellow” amat seperti tulisan-tulisan saya dalam blog ini. Bahkan awalnya saya mengira diri saya ini merupakan anak rumahan yang suka mengurung diri dalam kamar dan tenggelam dalam bacaan novel, komik ataupun tontonan film di laptop (maklum anak indihome). Begitu sampai di titik ini dimana minder dalam diri saya mulai berkurang, saya ingat pernah mempunyai pengalaman menarik membuat kue bronies saat bulan puasa. Waktu itu saya yang kerjaannya hanya menonton resep masakan akhirnya take action juga. Bermodalkan resep dari youtube dan bantuan ibu saya, akhirnya saya berhasil membuat bronies. Bisa dibilang agak berhasil. Bentuknya bergelombang, tidak rata seperti bronis pada umumnya, tapi rasanya lumayan enak.
Saya juga pernah mengikut karate saat masih kuliah di semester 5. Saya yang sudah berniat ingin ikut bela diri sejak SD, akhirnya bisa mewujudkan keinginan saya tersebut. Tapi hanya sebentar saja saya mengikuti karate, karena kesibukan jadwal kuliah dan sering sekali saya tepar keesokan paginya saat di kelas. Atau pengalaman-pengalaman saya dengan teman-teman saya, saat awal-awal menjadi MABA (mahasiswa baru), sering sekali saya menghabiskan waktu berjalan-jalan dengan mereka dan berfoto-foto menggunakan kamera. Saya jadi belajar banyak tentang fotografi dan edit foto dari teman-teman saya. Atau saat tahun 2015 saya membeli gitar akustik pertama saya dengan tambahan uang dari Bapak, tapi saya struggling dalam memainkannya, hingga membiarkan gitar saya teronggok di pojok kamar. Bagaimana pengalaman-pengalaman berharga terus terlintas di benak dan ingatan saya. Kenapa sekarang baru saya memikirkan semua pengalaman itu terasa fantastis? Mungkin karena saya terlalu insecure dan minder dengan diri saya. Saya sering membandingkan diri saya dengan orang lain. Ketika orang lain memiliki kemampuan yang lebih baik dari saya, saya merasa iri, tertekan dan bahkan berhenti melakukan hal yang saya mau. Saya melupakan hal-hal yang saya cintai karena menginginkan hal yang dimiliki orang lain. Saya jadi lupa caranya untuk fokus dengan diri saya sendiri dan lupa mengucap syukur. Jika mau dikata, banyak orang termasuk saya menginginkan hidup yang ada pada orang lain tersebut, tapi saya lupa jika banyak orang di luar sana yang ingin berada di posisi saya sekarang ini. Seperti postingan-postingan saya sebelumnya yang berbicara mengenai pemikiran untuk mengubah diri menjadi lebih baik, menjadi better version of myself, saya terlalu fokus pada hal-hal itu sampai lupa mengucap syukur. Ketika saya kembali membuka postingan-postingan dan foto-foto lama bersama keluarga dan teman-teman di facebook saya, saya sadar bahwa sudah banyak hal yang saya lalui, sudah banyak kenangan yang terukir, sudah banyak prestasi yang saya raih dan sudah banyak pelajaran yang saya ambil dari setiap kejadian dalam hidup saya. Tahun ini saya berusia 22 tahun. Usia yang cukup dibilang dewasa. Walaupun sudah dewasa, masih banyak yang belum saya ketahui. Saya masih menginginkan banyak hal yang ingin saya kerjakan dan lalui. Dan ketika suatu saat cobaan dan rintangan dengan versi terbaru datang menghampiri dan membuat saya jatuh, saya bisa kembali melihat ke belakang, sudah berapa banyak hal yang telah saya lalui, dan bersyukur karena telah sampai di titik ini. Kalau dipikir-pikir lagi, kenapa blog ini tidak diisi dengan kenangan dan memori dengan orang-orang terdekat? Bukankah lebih bermakna? Bagaimana dengan foto-foto bersama keluarga dan teman-teman atau foto traveling ke luar kota? Sepertinya akan ada banyak cerita untuk ditulis. Tunggu saja J

Sabtu, 01 Desember 2018

Awal bulan di Akhir tahun


Hal paling lucu adalah sampai sekarang  saya bahkan belum melakukan banyak hal yang saya inginkan ketika berumur 12 tahun. And now see? I’m 22 now! Will graduate this December. Rasanya lega menyelesaikan semua hal berbau akademik selama 16 tahun. Sekarang seperti terbebas dari jeratan setan. Rasanya benar-benar lega. Dan saya ingin melakukan semua hal yang saya inginkan ketika 12 tahun dan belum terwujudkan sepenuhnya. Training karate, ikut muay thai, traveling ke berbagai pelosok Indonesia dan luar negeri, melakukan dan membuat banyak handcraft baik dari flannel, kertas, plastisin, menguasai gitar dan menyanyikan lagu favorit, membuat kue hingga berhasil, melukis di kanvas dengan tutorial di youtube hingga jago, rutin sit up dan push up sampai badan sixpack (sebenarnya saya nggak masalah kalau badan saya berotot), melakukan pekerjaan yang saya cintai dan mendapat bayaran sampai bisa traktir seluruh keluarga, menulis cerita-cerita dan naskah saya yang tertunda karena urusan akademik (saya juga ingin menerbitkan sebuah buku), belajar renang sampai bisa dan ketagihan, snorkeling di pantai-pantai yang indah di seluruh Indonesia (asalkan nggak ada binatang buas, kuy!), dan masih banyak hal yang ingin saya capai. Saya 22 tahun. Pengangguran. Setelah 10 tahun yang lalu saya masih berusia 12 dan ternyata setelah tahun-tahun yang panjang saya belum mencapai semua keinginan saya. Feel so old and so fucked up now. Ternyata masih banyak yang belum saya ketahui. Masih banyak hal yang saya inginkan belum dikerjakan dan terlaksana. Tapi saya ingin mengasah semua bakat saya dan melakukan hal saya inginkan. Lagi-lagi saya masih belum terpikirkan untuk menjadi pegawai (entah magang atau apa lah), saya masih ingin berusaha menjadi pengusaha mandiri. Saya benar-benar berharap semua keinginan saya ini tercapai dan telah terlaksanakan di tahun 2019. Eh mungkinkah ini resolusi untuk tahun 2019? Entahlah hahaa. Semogakan saja.