Fuck. Why it’s a sad sad world?
Hidup berkecukupan? Terus kenapa? Malah lebih banyak drama keluarganya.
Tuntutan orangtua. Kenapa begitu? Padahal berharap banget orangtua yang paling depan kalau soal mendukung. Nyatanya paling depan dalam mengkritik dan menghujat. Terutama Bapak.
Belum ada kerja, disuruh kerja. Giliran dapat pekerjaan di swasta, malah dihujat. Dihina karena lembur tapi gaji sedikit. Terus adiknya Bapak, biasa kita panggil ‘kaka umi’, datang minta-minta duit ke saya. Malah sampai ditarik uang saya. Padahal dia sudah minta uang di Bapak dan Ibu. Pas tidak dikasih, dilapor di bapak bilang saya “ngelawan”. LOL. Punya tante yang MATRE NGGAK KERJA TAPI MINTA-MINTA UANG TERUS DI KELUARGA. Padahal punya suami. Anaknya malah cuma selisih setahun lebih muda dari saya tapi malah minta uang di saya dan kakak saya. Bukan pelit. Tapi kaka umi bukan tanggung jawab saya. Gaji saya belum dikasih ke orangtua, kok malah dikasih ke kaka umi? Lucu sekali. Kasian anaknya juga malu karena punya ibu seperti kaka umi yang seperti lintah ke keluarga yang punya uang.
Malah Bapak ngebela kaka umi, dan bilang saya harus kasih uang ke kaka umi. SERIOUSLY? Iya memang kaka umi adik dan saudara satu-satunya bapak. Dan sudah pasti bapak harus perhatikan saudaranya. Tapi bukan berarti harus menyakiti anak-anaknya dong demi saudaranya? Dari kecil kita (saya ada 3 saudara) selalu diajarkan dan dituntut baik sama keluarga dari kampung. Tapi keluarga kampung malah ngelunjak, bikin saya muak. Giliran saya ada uang, kaka umi kayak lintah, baik-baikin dan minta uang ke saya. Giliran saya gak kasih, malah diinjak-injak saya pakai mulut tajamnya.
Waktu itu bertengkar hebat. Adu domba kaka umi ke bapak, buat bapak jadi mukul dan injak kepala saya. Telinga saya berdenging dan kepala saya berdarah walaupun sedikit. Sakit. Badan dan hati saya sakit sekali. Saya masih ingat hari itu. Tanggal 4 november, 5 hari setelah aku berulang tahun ke 23. Saya masuk kerja pagi itu. Saya masuk kerja dengan mata sembab. Masuk paling pagi dan telpon kakak saya yang masih di jogja. Rekan kerja saya tanya ada apa dengan saya, melihat kondisi saya yang terlihat buruk pagi itu. Kalian tau apa yang terjadi selanjutnya? Bapak malah suruh saya minta maaf ke kaka umi. Hati saya hancur. Bahkan sampai hari ini, saya belum bisa memaafkan kaka umi dan Bapak saya. Bagaimana mau memaafkan? Sampai detik ini kaka umi belum meminta maaf kepada saya. Dia tidak merasa bersalah maupun malu atas perbuatannya.
Tahun berganti menjadi 2020. Jiwa saya terasa kosong setiap melihat wajah bapak saya. yang tersisa hanya rasa sakit dan benci yang mendalam di hati saya. Juni 2020, kakak saya entah kenapa mengungkit-ungkit rasa sakit saya. Dia bilang saya pantas dipukul dan dibenci. Dia bilang saya pantas dibenci Bapak. Saudara kandung saya sendiri bahkan mengatakan hal seperti itu. Dia mulai mengungkit rasa sakit hati saya, jika saya tidak menuruti perintahnya. Bahkan mengadu pada Bapak, sampai bapak mengusir saya. Malam itu saya mengemasi barang-barang saya dan menangis. Besoknya, 12 juni 2020, saya angkat kaki dari rumah. Pergi ke sekret FISIP membawa semua barang-barang saya.
Sebulan kemudian, 9 juli 2020 saya ke Bandung, meninggalkan semua rasa sakit. Dimana pun lebih baik daripada rumah. Saya tidak bisa tinggal ditempat yang sama dengan Bapak ataupun kakak saya. Nyatanya, saya masih membawa rasa sakit ini. Saya bekerja sampai kelelahan senin sampai jumat dan pulang langsung tertidur. Kadang sabtu dan minggu yang nyatanya hari libur malah membuat saya terus menangis. Saya tidak mau memikirkan mereka, tapi ingatan itu selalu muncul di kepala saya seperti baru kemarin hal itu terjadi. Ingatan muncul seperti sebuah film yang diputar di otak saya, tapi rasa sakitnya masih sama. Saya terus menangis. Kepala saya sakit dan saya tertidur karena kelelahan. Lalu senin datang dan siklus itu terulang lagi.
Memaafkan? Saya tidak tahu. Saya menelpon Ibu saya, tapi Ibu ingin saya memaafkan mereka. Saya tahu Ibu saya tidak mau saya jadi sakit kalau terus mengingat hal itu. Tapi tidak mudah. Saya tiidak tau caranya. Mencoba memaafkan, tapi hati saya selalu terasa sakit setiap mengingatnya. Saya capek, tapi tidak ada rumah untuk pulang. Rumah yang dulu sudah tidak terasa seperti rumah lagi. Saya yang pergi, tapi rasaya seperti dibuang dan tidak dianggap.