Sabtu, 06 Desember 2014

Rainy Day on December

Beberapa orang mengira hujan itu pembawa sial. Mebuat jalanan becek dan tergenang air, sehingga mereka tidak bisa melakukan aktivitas seperti hari-hari sebelumnya. Beberapa orang mengira hujan itu berkah. Dimana ketika musim kemarau yang terasa panjang diganti dengan dingin dan sejuknya air hujan. Beberapa orang mengeluh saat musim panas datang, karena menurut mereka udaranya terlalu panas dan bisa merusak kulit. Tapi mereka juga mengeluh ketika hujan datang dengan alasan bisa terkena penyakit kulit karena genangan air dijalanan.
Sebenarnya tidak penting apa itu musim panas maupun musim hujan. Yang terpenting adalah bagaimana kita bersyukur melewati hari-hari yang dijalani. Bukan bermaksud naif, tapi bukankah memulai pikiran positif dapat berdampak baik pada aktivitas yang akan kita lakukan? Bukankah semua orang tahu mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah? Seperti itulah hal yang harus dipikirkan. Menikmati setiap detik hal yang kita lewati, tidak perlu menyesal dengan apa yang telah dilakukan, memperbaiki diri lebih baik keesokan harinya. Sesederhana itu.
Terkadang pikiran kita sendiri yang mengalami konflik dan memikirkan hal-hal rumit yang sebenarnya tidak akan terjadi.
Bicara tentang pikiran, kadang aku memikirkan teman-temanku terlalu egois. Mau didengarkan tapi tidak mau mendengarkan. I know, ini masalah yang sudah umum. Seperti ketika kau bertanya pada mereka, mereka tidak akan menjawab kecuali kau menyebut nama mereka. Padahal jika mereka tahu aku sendiri yang bertanya pada mereka, harusnya mereka tinggal menjawab. Contohnya:
"kawan, hari ini kenapa tidak jadi mata kuliah ****?" (tidak ada yang menjawab.
"L*****, hari ini kenapa tidak jadi mata kuliah?" (Ia akan menjawab)

I mean, mereka semua 'KAWAN'ku kan? Harusnya mereka berbalik. Bahkan ketika aku mengulang terus pertanyaan itu sampai tenggorokanku sakit, tidak ada yang menjawab. Aku rasa aku tidak akan melupakan perbuatan mereka terhadapku SEUMUR HIDUP. I swear, Bitches!

Btw, jika dipikir-pikir lagi, aku kembali mengingat hal ini pernah menimpa teman baikku di SMA, namanya D***. Waktu itu si D juga bertanya ke teman-teman sekelasnya, tapi tidak ada yang menggubrisnya. Mungkin hanya aku sendiri yang akan menjawab pertanyaannya dan mendengarkan dirinya (she said that to me: only me who notice her exist). Tapi perbedaan antara keadaan si D waktu SMA dengan keadaanku yang sekarang adalah masih ada orang yang berada dipihak si D meski hanya aku dan beberapa teman lainnya. Sedangkan aku, kurasa tidak ada teman kuliah satupun yang berpihak padaku. Bahkan menggubris padaku saja tidak ada. Ini di kampus ya. Bukan di luar kampus, karena aku punya beberapa teman baik diluar kampus (yang dulunya teman SMA).

Satu hal yang aku pelajari, dan aku pernah beritahu hal ini pada si D bahwa, "Tidak perlu mendapat perhatian dari teman-teman yang sama sekali tidak memperhatikanmu. Kau tidak bisa memaksa semua orang untuk selalu melihatmu. Fokus saja pada orang yang memperhatikanmu. Seperti aku dan beberapa teman lainnya. Kau lebih baik dari mereka! Stay ahead!"
Seperti yang aku katakan sebelumnya, bersyukurlah! Tetaplah bersyukur, tidak peduli kawan atau lawan. Karena kau tidak akan menjadi seperti sekarang tanpa mereka.
Masih ada orangtuamu yang selalu memperhatikanmu. Kakak yang mengasihimu. Adik-adik yang menunggu untuk diperhatikan. Teman-teman lainnya yang respect dan mau menggubrismu. Nyatanya, kau tidak sendiri. Kau hanya MERASA sendirian. Kau hanya MERASA ditinggalkan.

I remember all of that words. I remember what I kept chatting on her when she FELT lonely. Chatting. Laughing. Sad. Happy. Angry. Stupid. Cause' we could make our happiness in that class without any hesitation. That's what a best friend should be. Cause' we're knew, learn more and more to keep strong.

I'll keep it what I told to D.
I'll keep it when I felt so lonely.
I'll keep those Words Forever in My Mind. I Promise.

Thanks for this Rainy day on December.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar