Sejak kecil, aku tidak bisa berpikir bagaimana aku kedepannya. Bagaimana nanti aku melanjutkan ke jengjang sekolah yang lebih tinggi. Bagaimana rencanaku selanjutnya. Dan aku bahkan tidak tahu apa cita-citaku. Sejak kecil, semua temanku membicarakan cita-citanya. Dokter, guru, pilot, perawat... Tapi tidak semuanya pantas untukku. Aku memang tidak tahu apa-apa dan tidak tahu bagaimana nasibku selanjutnya. Yang aku tahu, aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan dan membuang jauh-jauh hal-hal yang tidak ingin aku lakukan. Misalnya saja bersosialisasi. Aku benci dengan bersosialisasi. Bukan karena aku tidak bisa. Aku bisa, karna aku pernah mencobanya. Bersosialisasi dengan beberapa teman and it works. Tapi yang membuatku benci yaitu sensasi yang aku rasakan saat bersosialisasi, mengenal orang-orang baru, wajah-wajah baru, nama-nama baru yang membuatku merasa pusing dan mual. Dan kebanyakan mereka akan mengenalku dibanding aku mengenal mereka. Aku menjadi pusat perhatian. Jujur aku tidak suka. Karena itu terlihat bukan sepertiku. Daripada berusaha mengajak berteman orang-orang asing, aku lebih suka duduk di pojok ruangan sambil membaca novel favoritku dengan sekotak pocky dan lagu yang mengalun melalui headsetku. Aku tidak pintar. Maksudku tidak semua kutu buku itu pintar kan? Aku suka membaca semua buku kecuali buku pelajaran disekolah. Aku baru menyadarinya saat di SMP. Bukan karna aku membenci pelajaran sekolah, tapi seberapa keras aku mencoba memahami isi bacaan buku-buku seperti ilmu pengetahuan, aku tetap tidak mengerti. Akhirnya aku putuskan melakukan hal apapun yang aku suka. Berusaha menurunkan harapan orangtuaku terhadapku karena aku tidak suka mendapat beban seperti itu. Berhenti belajar adalah salah satunya. Tapi entah kenapa aku selalu lulus ujian. Dan mata pelajaran yang menurutku susah dan tidak bisa kupahami malah dapat nilai pas sesuai standar. Aku benar-benar beruntung. Tapi menurutku aku tidak seberuntung kakakku. Bagaimanapun aku melihatnya, dia tidak pernah membuat kesalahan-kesalahan sepertiku. Prestasinya di sekolah bagus, perilakunya sopan, selalu tersenyum, bisa bersosialisasi. Berbeda 180 derajat denganku. Tapi walaupun aku awalnya minder, aku tidak mau berlama-lama iri dengannya. Aku bersosialisasi dengan caraku. Aku cepat mudah lupa nama orang. Jadi aku bersosialisasi dengan face to face pada setiap orang yang mau berbicara padaku. Agar mereka mengenalku dan aku juga mengenal mereka. Impas. Tidak ada paksaan. Tidak ada keramahan yang dibuat-buat. Karena aku benci dengan semua topeng yang mereka kenakan untuk menutup diri mereka. Saat itu aku berpikir seperti itu. Tapi lama-kelamaan aku sadar, tidak benar juga langsung membuka semua tentang diriku kepada orang lain. Cukup beberapa orang saja. Karena tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Siapa tahu besok mereka menjadi musuhku dan menyerangku titik terlemah dalam diriku yang pernah aku beritahukan pada mereka. Karena sikap seperti inilah, aku tidak bisa membedakan mana yang kawan dan mana yang lawan. Akibatnya aku tidak bisa mempercayai orang-orang sekitarku dan menutup diri. Tidak suka bersosialisasi. Seperti penjelasan paling atas, banyak alasan aku tidak ingin bertemu orang asing yang begitu banyak dan mulai sok kenal sok dekat pada mereka. Alasan paling utamanya, aku tidak ingin menjadi seseorang yang bukan diriku. Aku tidak ingin menjadi tipe yang paling aku benci, orang munafik yang pura-pura senang atau sedih didepan temannya. Aku tidak ingin berubah. Aku takut, ketika aku mulai keluar dari zona amanku, seiring berjalannya waktu, aku bisa menjadi sosok yang berbeda dari awal, berbeda dengan sosok asing yang tidak kukenal. Aku manusia paling rapuh. Paling pengecut. Dan selamanya mungkin akan seperti ini. Aku hanya berpegang pada hal yang aku yakini, yaitu berpura-pura tuli dan melakukan hal-hal sesuka hatiku. Tidak tahu sampai kapan hal ini berakhir dalam diriku. Dan suatu saat, ketika aku siap keluar dari zona nyamanku, mungkin saat itu juga aku telah mengambil langkah besar. Dan mungkin pandangan dan sikapku akan berubah dan berbeda jauh dari 'aku' yang sekarang. Sampai aku menantikan hal itu terjadi, aku akan menikmati hal-hal yang sekarang ada di dalam hidupku. Aku akan lakukan apapun yang aku mau. Sampai saat itu tiba. Aku berjanji.
P.S.:
sampai saat ini aku tidak tahu bagaimana bersosialisasi dengan benar tanpa rasa canggung. Setiap kali mencobanya, mataku selalu berkunang-kunang. Jika kau ada saran, tolong beritahu aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar