Baru-baru
ini saya terlibat percakapan dengan seorang teman, sebut saja si F, dimana pembicaraan kami kali
ini tidak seperti biasanya. Bisa dibilang lebih rumit dan deep tentang hidup yang kami jalani sampai titik ini. Percakapan
kami sampai pada saat saya memberi tahu dia mengenai blog saya ini yang hanya
beberapa teman saja yang tahu. Teman saya ini sampai berceletuk, “isinya
seputar patah hati dan tentang pemikiran diri sendiri ya”. Yup! Betul. Saya
sadar pemikiran seputar diri saya sering saya tuangkan dalam blog ini. Hanya
satu-dua artikel yang saya tulis mengenai keluarga atau teman-teman saya. Tapi
jika dipikirkan lagi, bahkan setelah ngobrol dan diskusi panjang dengan teman
saya ini, ternyata hidup saya tidak begitu buruk-buruk amat. tidak begitu “mellow”
amat seperti tulisan-tulisan saya dalam blog ini. Bahkan awalnya saya mengira
diri saya ini merupakan anak rumahan yang suka mengurung diri dalam kamar dan
tenggelam dalam bacaan novel, komik ataupun tontonan film di laptop (maklum
anak indihome). Begitu sampai di titik ini dimana minder dalam diri saya mulai
berkurang, saya ingat pernah mempunyai pengalaman menarik membuat kue bronies
saat bulan puasa. Waktu itu saya yang kerjaannya hanya menonton resep masakan
akhirnya take action juga.
Bermodalkan resep dari youtube dan bantuan ibu saya, akhirnya saya berhasil
membuat bronies. Bisa dibilang agak berhasil. Bentuknya bergelombang, tidak
rata seperti bronis pada umumnya, tapi rasanya lumayan enak.
Saya
juga pernah mengikut karate saat masih kuliah di semester 5. Saya yang sudah
berniat ingin ikut bela diri sejak SD, akhirnya bisa mewujudkan keinginan saya
tersebut. Tapi hanya sebentar saja saya mengikuti karate, karena kesibukan
jadwal kuliah dan sering sekali saya tepar keesokan paginya saat di kelas. Atau
pengalaman-pengalaman saya dengan teman-teman saya, saat awal-awal menjadi MABA
(mahasiswa baru), sering sekali saya menghabiskan waktu berjalan-jalan dengan
mereka dan berfoto-foto menggunakan kamera. Saya jadi belajar banyak tentang
fotografi dan edit foto dari teman-teman saya. Atau saat tahun 2015 saya
membeli gitar akustik pertama saya dengan tambahan uang dari Bapak, tapi saya struggling dalam memainkannya, hingga
membiarkan gitar saya teronggok di pojok kamar. Bagaimana pengalaman-pengalaman
berharga terus terlintas di benak dan ingatan saya. Kenapa sekarang baru saya
memikirkan semua pengalaman itu terasa fantastis? Mungkin karena saya terlalu insecure dan minder dengan diri saya.
Saya sering membandingkan diri saya dengan orang lain. Ketika orang lain
memiliki kemampuan yang lebih baik dari saya, saya merasa iri, tertekan dan
bahkan berhenti melakukan hal yang saya mau. Saya melupakan hal-hal yang saya
cintai karena menginginkan hal yang dimiliki orang lain. Saya jadi lupa caranya
untuk fokus dengan diri saya sendiri dan lupa mengucap syukur. Jika mau dikata,
banyak orang termasuk saya menginginkan hidup yang ada pada orang lain
tersebut, tapi saya lupa jika banyak orang di luar sana yang ingin berada di
posisi saya sekarang ini. Seperti postingan-postingan saya sebelumnya yang
berbicara mengenai pemikiran untuk mengubah diri menjadi lebih baik, menjadi better version of myself, saya terlalu
fokus pada hal-hal itu sampai lupa mengucap syukur. Ketika saya kembali membuka
postingan-postingan dan foto-foto lama bersama keluarga dan teman-teman di
facebook saya, saya sadar bahwa sudah banyak hal yang saya lalui, sudah banyak
kenangan yang terukir, sudah banyak prestasi yang saya raih dan sudah banyak
pelajaran yang saya ambil dari setiap kejadian dalam hidup saya. Tahun ini saya
berusia 22 tahun. Usia yang cukup dibilang dewasa. Walaupun sudah dewasa, masih
banyak yang belum saya ketahui. Saya masih menginginkan banyak hal yang ingin
saya kerjakan dan lalui. Dan ketika suatu saat cobaan dan rintangan dengan
versi terbaru datang menghampiri dan membuat saya jatuh, saya bisa kembali
melihat ke belakang, sudah berapa banyak hal yang telah saya lalui, dan
bersyukur karena telah sampai di titik ini. Kalau dipikir-pikir lagi, kenapa
blog ini tidak diisi dengan kenangan dan memori dengan orang-orang terdekat? Bukankah
lebih bermakna? Bagaimana dengan foto-foto bersama keluarga dan teman-teman atau
foto traveling ke luar kota? Sepertinya akan ada banyak cerita untuk ditulis. Tunggu
saja J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar