Itu semangat membara... Apa masih ada?
Sejauh yang b ingat, b pung diri terlalu banyak api didalamnya.
Passion.
Sonde gampang menyerah sampai akhirnya dapat yang diinginkan.
Lalu apinya padam.
Sonde bersisa sama sekali.
Padam. Gelap dan dingin jadinya.
B masih mencari sisa-sisa api di b pung diri
B su mulai lebih mengenali b pung diri.
Mulai lebih santai dalam menanggapi omongan orang.
Sudah lebih legowo. Mungkin ini yang dirasain semua yang su 25 tahun.
Walaupun hidup dalam ketidakpastian, tapi sudah lebih menerima.
"It's okay, it's fine" yang selalu didengungkan buat beta dari awal 20-an tahun untuk dijadikan kalimat penenang, sekarang su jadi bagian dari setiap hembusan napas. Itu kalimat su melekat dalam b pung diri. Su lebih santuy. Su lebih menertawakan diri sendiri.
Dan 25 tahun.
B jadi sadar, hal yang b cintai, yang b sukai, pantas buat diperjuangkan.
Karena dulu b terlalu cuek dengan orang lain, dan lebih baper dan afeksi dengan orang-orang terdekat dalam b pung circle, jadinya b lebih berharap dan terus kecewa.
Somehow sekarang b su lebih legowo dengan orang asing. Lebih welcome dengan orang luar, tapi sonde terpengaruh dengan hal yang buat b down.
Su 25 tahun. B su lebih tau, kadang sonde semua emosi perlu dikontrol. Ada beberapa yang perlu disalurkan di orang yang tepat.
Aaahh... 25 tahun.
Jadi ingat lagunya IU - Pallete. Hahaha.
Setelah pulang kupang, b harus mulai lagi b pung usaha buket bunga.
Itu hal yang b rintis dari dulu. Dari awalnya tertarik, menjadi suka, lalu jatuh cinta dengan b pung karya sendiri.
Lalu dengan gampangnya b buang dan kasih tinggal. Lupa dulu b berjuang sekeras apa dan bahagia sebesar apa waktu kembangkan usaha itu.
Itu karena b pung rasa minder. Rasa sonde cukup. Rasa sonde puas.
Hal yang seharusnya baik. Bunga yang seharusnya mekar, malah layu pas masih jadi kuncup.
Setelah pergi, baru sadar hal-hal baik yang su terjadi di b.
Buket bunga yang iseng b buat. Buket pertama yang b kasih untuk teman skripsi. Nama brand buket di IG yang pertama b kasih nama @buketbungayakusa, karena itu kalimat dari HMI. Bukan karena organisasinys yang bagus, tapi karena orang-orang baik disana.
Orang-orang yang waktu kuliah, jadi teman baik. Lalu mendukung b pung usaha. Dong tau sebesar dan sekeras apa b pung cinta dan usaha untuk buat usaha sendiri. Bahkan sebelum b sadar.
Teman-teman baik yang mendukung, bantu iklan, bahkan ju ikut beli waktu dong skripsi.
Darma, Syarti, Amrin, dan dinda² HMI yang su dukung.
Yati, firda, sugeng, ocha, imad, yulet, heni, lita dan teman² magic dan teman SMA yang beli b pung buket.
B ju ingat pesanan pertama dari orang asing. Karena Aldi kasih story di dia pung IG (Instagram), itu orang pesan untuk setahun peringatan hari meninggalnya dia pung mama.
Buket pertama yang b buat adalah buket duka.
Tapi b jadi termotivasi untuk bikin dan berkarya lai.
Aaahh... B harap b bisa buat lai nanti pas balik Kupang.
Kenapa isinya (ini tulisan) kebanyakan soal b pung usaha ni? Hahaha.
Mungkin b sedang mencari sisa rasa suka, makna rasa sayang, dan sisa-sisa api semangat yang masih ada disana.
Dan pas b tulis ini, ternyata memang masih ada passion di dalam situ.
Haah... Baik usaha, maupun hubungan, b lepas begitu sa, karena b pung emosi yang belum bisa b kenali kalau lagi kalut.
Sekarang, b rasa itu emosi mulai padam. Seiring waktu. Eh sonde sih.
Lebih karena b pergi ke tempat jauh, dimana sonde akan ketemu sumber rasa sakit maupun kebahagiaan b pung dulu.
Tapi akhirnya sekarang b mengerti. Cukup lama baru akhirnya mengerti kalau rasa cinta harus lebih besar dari rasa benci yang bikin sakit. Biar bisa untuk terus hidup. Ini kalimat semua orang tahu. Cuma untuk jalani, pasti susah.
Pantas banyak orang yang bilang, "kalau terlalu lelah, sampai capek dan muak dengan semuanya, berpeganglah pada sesuatu. Apapun itu. Mau itu ibadah, minum alkohol, olahraga, hobi apapun itu, berpeganglah pada itu. Biar tetap bisa jalani hidup."
Pada akhirnya, sonde perlu harus mengerti ataupun mengendalikan hal yang di luar b pung jangkauan. Cukup fokus di b pung diri dan biarkan semua berlalu. Cukup mengerti manusia itu abu-abu. Kalau ada sisi baiknya, pasti ada buruknya.
Pada akhirnya, ini cuma masalah menerima.
Menerima dan ikhlas.
Kalau su lewat ini tahap, mungkin mulai berkomitmen.
Komitmen untuk jangka panjang. Baik itu dengan b pung diri sendiri, komitmen dengan usaha yang b jalani supaya konsisten, maupun komitmen dengan hubungan b dengan orang lain.
Aahh... B sekarang mengerti kenapa ibu berkomitmen dan bertahan lama dengan bapak.
Mungkin karena selama ini, Ibu su menerima dan mengikhlaskan.
END.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar