Kamis, 19 Februari 2015

1000 years, I wish...

Mimpi buruk.
Akhir-akhir ini aku sering mimpi buruk. Setiapa mimpi terasa nyata, membuatku selalu kesulitan bernapas ketika terbangun. Aku selalu dihinggapi rasa gelisah. Bahkan walaupun aku berdoa sebelum tidur, ataupun tidak sama sekali, mimpi itu tetap datang. Beberapa mimpi terjadi berulang-ulang. Tapi semua mimpi punya inti yang sama. Aku kehilangan orang-orangku. Orang-orang yang aku sayangi, orang-orang yang aku percaya, orang-orang yang sangat dekat denganku. Semua mati.
Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai bermimpi tentang hal ini, aku tahu kalian akan mengira aku gila karena terlalu mempercayai mimpi-mimpi aneh. Tapi sungguh, aku bukan tipe orang yang percaya pada suatu mimpi yang terjadi di bawah alam sadar. Aku tidak suka memikirkan mimpi yang sebenarnya hanya merupakan bunga tidur. Tapi hal ini membuatku berpikir, bagaimana sikapku nanti jika orang-orangku dipanggil oleh Yang Maha Kuasa? Bagaimana aku harus terbiasa menjalani hidup tanpa mendengar suara mereka? Tanpa melihat wajah mereka? Kalian pasti juga berpikir seperti itu, kan? Bagaimana jika sahabatmu, saudaramu, atau orangtuamu, tiba-tiba pergi meninggalkan kalian disaat hidup sedang terasa damai?
Aku bermimpi kakakku meninggal. ibuku meninggal. Aku bermimpi teman-temanku meninggal. Saat terbangun, rasanya sakit sekali. Nenekku mengatakan jika aku bermimpi orang yang meninggal, berarti mereka akan panjang umur. Kalau begitu bagaimana dengan ayah dan kedua adikku? Jika aku tidak memimpikan mereka, apa mereka tidak diberi umur panjang? Aku tidak ingin dan tidak akan pernah membayangkannya.
Dunia ini memang sementara. Semua orang pasti mati. Pasti. Tapi bagaimana jika orang yang mati itu adalah orang terdekatku? Orang yang paling aku sayangi? Bukankah itu terlalu kejam, mengambil mereka disaat kami sangat menyayanginya? Semua pikiran bermain dikepalaku seperti film yang diputar.
Seketika itu juga beberapa pukulan menyentakku ke alam sadar, ketika aku tahu saudara dari teman-temanku meninggal. Ayah dan ibu mereka meninggal. Nenek mereka, dan bahkan teman-teman terbaik mereka meninggalkan dunia yang fana ini. Saat itu aku berpikir, apakah teman-temanku terlalu dewasa dan terlalu baik, hingga orang-orang terdekatnya diambil? Apakah mereka terlalu baik hingga diberi cobaan seperti itu? Apakah aku sudah beranjak dewasa, hingga akhirnya mereka akan pergi meninggalkanku? Jika begitu, aku tidak ingin menjadi dewasa. Aku ingin menghentikan waktu. Membunuh waktu bila perlu. Aku ingin terus seperti ini. Dimana ayah dan ibuku, kakakku, adik-adikku, sepupu, teman, dan semua orang-orang didekatku akan terus hidup. Akan terus seperti ini. Aku tahu ini pemikiran yang bodoh, tapi inilah yang aku inginkan untuk tetap hidup bersama mereka.
Aku tidak akan bosan.
Aku akan berjanji pada Tuhan, aku tidak akan pernah menjadi dewasa agar mereka tidak meninggalkanku. Agar mereka masih memiliki beban dan harus bertanggung jawab terhadapku. Agar mereka masih harus mengurusku dan tidak bisa meninggalkanku. Agar mereka terus hidup dan terus berada disampingku. Menemaniku.
Aku akan berjanji pada Tuhan, Aku tidak akan bosan.
Aku tidak akan pernah bosan meski 1000 tahun kemudian. Seperti pohon-pohon tua dan kokoh yang telah hidup beribu tahun lamanya. Pohon-pohon yang menghijau dan subur ketika hujan turun dan tetap bertahan saat berada ditengah-tengah kekeringan. Aku ingin mereka semua tetap hidup. Aku ingin mereka hidup dalam waktu yang lama. Aku ingin mereka tetap hidup walau ajal menjemputku. Dengan begini, aku tidak akan merasa kehilangan mereka. Dengan begini, aku tidak akan merasa sakit oleh mereka. Karena hal yang paling aku takutkan adalah ketika mereka meninggalkanku. Ketika tubuh mereka berhenti bergerak dan berhenti bernapas. Terbaring kaku. Mati.
Karena itulah, aku ingin mereka tetap dan selalu hidup.
Bukan aku, tapi mereka.
Orang-orangku.
Mereka harus hidup lebih lama hingga dunia ini bosan beratus-ratus kali.

Ya, hidup hingga 1000 tahun lamanya...

I wish...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar