SFAC No. 1 Objectives of Financial
Reporting by Business Enterprises
(Tujuan
pelaporan keuangan pada entitas bisnis)
Menekankan
pada tujuan pelaporan keuangan perusahaan yaitu untuk menyediakan informasi
yang berguna dalam proses pengambilan keputusan bisnis dan ekonomi. Statement
ini merupakan turunan dari Trueblood Report dengan beberapa judgment penilaian
yang lebih berorientasi pada pengguna.
Statement ini mengakui adanya
heterogenitas kelompok pengguna eksternal. Meskipun demikian, statement ini
menyatakan bahwa pada umumnya para pengguna eksternal tersebut mementingkan
prediksi jumlah, waktu, dan ketidakpastian aliran kas di masa mendatang. Oleh
karena itu, tujuan pelaporan keuangan perusahaan didefinisikan secara umum dan
tidak terarah pada kepentingan satu kelompok pengguna saja.
Statement ini berasumsi bahwa
pengguna laporan keuangan memiliki kemampuan dalam membaca informasi yang
terdapat didalamnya. Selain itu, statement ini juga menyatakan pentingnya
stewardship untuk menaksir seberapa baik manajemen melaksanakan tugas dan
kewajibannya kepada pemilik dan pihak lain yang berkepentingan.
Berikut
ini merupakan beberapa judgment penilaian penting yang dibuat melalui
laporan:
1. Manfaat penggunaan informasi lebih besar daripada biaya yang
digunakan untuk menyediakan informasi tersebut.
2. Laporan akuntansi bukan satu- satunya sumber informasi
mengenai perusahaan.
3. Accrual accounting sangat berguna dalam menaksir dan
memprediksi earning power dan aliran kas suatu perusahaan.
4. Informasi yang disediakan harus bermanfaat, tapi pengguna
membuat keputusan dan penaksiran mereka sendiri.
Dokumen ini tidak menyatakan
statement mana yang harus dipakai dan bagaimana formatnya. Namun dokumen ini
menyatakan bahwa pelaporan keuangan harus menyediakan informasi mengenai sumber
ekonomi perusahaan, kewajiban, dan ekuitas pemilik.
**Kaitannya dengan PSAK (PSAK 1
Penyajian Laporan Keuangan “Paragraf 10”)
Laporan keuangan adalah suatu penyajian
terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas. Tujuan
laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja
keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan
pengguna laporan keuangan dalam pembuatan keputusan ekonomi. Laporan keuangan
juga menunjukan hasil pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya
yang dipercayakan kepada mereka. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, laporan
keuangan menyajikan informasi mengenai entitas yang meliputi :
a) Aset;
b) Liabilitas;
c) Ekuitas;
d) Pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian;
e) Kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dalam
kapasitasnya sebagai pemilik; dan
f) Arus kas
Informasi tersebut, beserta
informasi lain yang terdapat dalam catatan atas laporan keuangan, membantu
pengguna laporan keuangan dalam memprediksi arus kas masa depan dan, khusunya,
dalam hal waktu dan kepastian diperolehnya kas dan setara kas.
SFAC No. 2 Qualitative
Characteristics of Accounting Information
(Karakteristik
kualitatif informasi akuntansi)
Istilah karakteristik kualitatif
pernah disebutkan dalam APB Statement 4. Namun yang dibahas di sini merupakan
lanjutan dari ASOBAT. Statement No. 2 ini menempatkan kepentingan pengambil
keputusan sebagai pusat perhatian. Manfaat informasi haruslah melebihi biaya
untuk menyediakannya. Dengan demikian understandability merupakan kualitas
penting yang harus dipenuhi, sekaligus menjadi hambatan besar.
Manfaat informasi akuntansi
tercermin pada besarnya manfaat yang diperoleh pengguna untuk mengambil
keputusan. Dengan demikian, besarnya manfaat informasi akuntansi terkait dengan
tujuan prediktif dan akuntabilitas. Biaya langsung informasi terkait dengan kegiatan
mengumpulkan, menyiapkan, dan menyebarkan informasi. Selain itu, informasi
(misal sesuai segmentasi) yang dipublikasi dapat merugikan perusahaan dalam
menghadapi persaingan dalam industry. Sedangkan biaya tidak langsung terkait
dengan understandability informasi. Misalnya pengungkapan tambahan seperti yang
diatur dalam SFAS No. 33 terbukti tidak atau kurang dimengerti oleh pengguna.
Masalah lain yaitu terjadinya overload informasi atau kemampuan individu dan
pasar dalam menyerap dan menggunakan informasi.
Biaya informasi, baik langsung
maupun tidak, melibatkan konsekuensi ekonomi yang kemudian menimbulkan masalah
penilaian (valuation). Oleh karena itu, sebuah usaha diarahkan untuk
berkonsentrasi pada karakteristik representational faithfulness.
Relevance
Mampu membuat perbedaan dalam suatu
keputusan dengan membantu pengguna untuk memprediksi mengenai outcome dari
kejadian masa lalu, sekarang, dan masa depan atau untuk mengkonfirmasi atau
mengoreksi ekspektasi. Relevansi memiliki dua aspek penting dan satu aspek
tambahan, yaitu:
-
Predictive Value : Kegunaan input
untuk melakukan prediksi seperti arus kas atau earning power.
-
Feedback Value : Menekankan pada
konfimasi dan koreksi ekspektasi awal dari para pengambil keputusan. Untuk menaksir
dimana posisi perusahaan saat ini dan bagaimana manajemen menjalankan
fungsinya. Jika dilihat lebih luas, maka feedback value ini juga berhubungan
dengan akuntabilitas. Informasi yang disediakan oleh kualitas ini juga
mempengaruhi predictive value.
-
Timeliness : Merupakan hambatan bagi
kedua aspek diatas. Sebuah informasi akan relevan bila disajikan tepat waktu
sebelum informasi tersebut kehilangan kapasitasnya untuk mempengaruhi
pengambilan keputusan. Sering terjadi trade- off antara timeliness dengan
komponen lain relevansi.
Reliability
Tersusun dari tiga bagian yaitu:
verifiability, representational faithfulness, dan neutrality.
-
Verifiability : Tingkat consensus
diantara para pengukur (measurer).
-
Representational faithfulness :
Pengukuran harus sesuai dengan fenomena yang akan diukur.
-
Neutrality : Keyakinan bahwa proses
penetapan kebijakan harus lebih ditekankan pada relevansi dan reliabilitas
daripada dampak sebuah standar atau peraturan pada kelompok pengguna secara
spesifik atau kepentingan perusahaan itu sendiri.
**Kaitannya dengan PSAK (Kerangka
Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan “Paragraf 24-42” )
“Paragraf 24” Karakteristik
kualitatif merupakan ciri khas yang membuat informasi dalam laporan keuangan
berguna bagi pengguna. Terdapat empat karakteristik kualitatif pokok, yaitu :
dapat dipahami, relavan, keandalan, dan dapat diperbandingkan.
1. Dapat
dipahami
“Paragraf 25” Kualitas penting
informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk
segera dapat dipahami oleh pengguna. Untuk maksud ini, pengguna diasumsikan
memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis,
akuntansi, serta kemauan untuk mempelajari informasi dengan ketekunan yang
wajar. Namun demikian, informasi kompleks yang seharusnya dimasukan dalam
laporan keuangan tidak dapat dikeluarkan hanya atas pertimbangan bahwa
informasi tersebut terlalu sulit untuk dapat dipahami oleh pengguna tertentu.
2. Relavan
“Paragraf 26” Agar bermanfaat,
informasi harus relavan untuk memenuhi kebutuhan pengguna dalam proses
pengambilan keputusan. Informasi memiliki kualitas relavan kalau dapat
memengaruhi keputusan ekonomi pengguna dengan membantu mereka mengevaluasi
peristiwa masa lalu, masa kini ata masa depan, menegaskan, atau mengoreksi,
hasil evaluasi pengguna di masa lalu.
“paragraf 27” Peran informasi dalam
peramalan (predictive) dan penegasan (confirmatory) berkaitan satu sama
lain. Misalnya, informasi struktur dan besarnya aset yang dimiliki bermanfaat
bagi pengguna ketika mereka berusaha mermalkan kemampuan entitas dalam
memanfaatkan peluang dan bereaksi terhadap situasi yang merugikan. Informasi
yang sama juga berperan dalam memberikan penegasan (confirmatory role) terhadap
prediksi yang lalu, misalnya, tentang bagaimana struktur keuangan entitas
diharapkan tersusun atau tentang hasil dari operasi yang direncanakan.
“paragraf 28” Informasi posisi
keuangan dan kinerja dimasa lalu sering kali digunakan sebagai dasar untuk
memprediksi posisi keuangan dan kinerja masa depan dan hal-hal lain yag
langsung menarik perhatian pengguna, seperti pembayaran dividen dan upah,
pergerakan harga sekuritas, dan kemampuan entitas untuk memenuhi komitmennya
ketika jatuh tempo. Untuk memiliki nilai pridiktif, informasi tidak perlu harus
dalam bentuk ramalan eksplisit. Namun demikian, kemampuan laporan keuangan
untuk membuat prediksi dapat ditingkatkan dengan penampilan informasi tentang
transaksi dan peristiwa masa lalu. Misalnya, nilai prediktif laporan laba rugi
dapat di tingkatkan kalau pos-pos penghasilan atau beban yang tidak biasa,
abnormal dan jarang terjadi diungkapkan secara terpisah.
Materialitas
“paragraf 29” Relevansi informasi
dipengaruhi oleh hakikat dan materialitasnya. Dalam beberapa kasus, hakikat
informasi saja sudah cukup untuk menentukan relevansinya. Misalnya, pelaporan
suatu segmen baru dapat memengaruhi penilaian resiko dan peluang yang dihadapi
entitas tanpa mempertimbangkan materialitas dari hasil yang dicapai segmen baru
tersebut dalam periode pelaporan. Dalam kasus lain, baik hakikat maupun
materialitas dipandang penting, misalnya jumlah serta kategori persediaan yang
sesuai dengan kebutuhan entitas.
“paragraf 30” Informasi dipandang
material kalau kelalaian untuk mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat
informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna yang diambil
atas dasar laporan keuangan. Materialitas bergantung pada besarnya pos atau
kesalahan yang dinilai sesuai dengan situasi khusus dari kelalaian dalam
mencantunkan (omission) atau kesalahan dalam mencatat (misstament).
Karenanya, materialitas lebih merupakan suatu ambang batas atau titik pemisah
dari pada suatu karakteristik kualitatif pokok yang harus dimiliki agar
informasi dipandang berguna.
3. Keandalan
“paragraf 31” Agar bermanfaat,
informasi juga harus andal {reliable). Informasi memiliki kualitas andal jika
bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat
diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus atau jujur (faithful
representation) dari yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar
diharapkan dapat disajikan.
“paragraf 32” Informasi mungkin
relevan tetapi jika hakekat atau penyajiannya tidak dapat diandalkan maka penggunaan
informasi tersebut secara potensial dapat menyesatkan. Misalnya, jika keabsahan
dan jumlah tuntutan atas kerugian dalam suatu tindakan hukum masih
dipersengketakan, mungkin tidak tepat bagi perusahaan untuk mengakui jumlah
seluruh tuntutan tersebut dalam neraca, meskipun mungkin tepat untuk
mengungkapkan jumlah serta keadaan dari tuntutan tersebut.
“paragraf 33” Agar dapat diandalkan,
informasi harus menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya
yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk
disajikan. Jadi, misalnya, neraca harus menggambarkan dengan jujur transaksi
serta peristiwa lainnya dalam bentuk aktiva, kewajiban dan ekuitas perusahaan
pada tanggal pelaporan yang memenuhi kriteria pengakuan.
4. Dapat
diperbandingkan
“paragraf 39” Pemakai harus dapat
memperbandingkan laporan keuangan perusahaan antar periode untuk
mengidentifikasi kecenderungan (trend) posisi dan kinerja keuangan. Pemakai
juga harus dapat memperbandingkan laporan keuangan antar perusahaan untuk
mengevaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan secara
relatif. Oleh karena itu, pengukuran dan penyajian dampak keuangan dari
transaksi dan peristiwa lain yang serupa harus dilakukan secara konsisten untuk
perusahaan tersebut, antar periode perusahaan yang sama dan untuk perusahaan
yang berbeda.
“paragraf 40” Implikasi penting dari
karakteristik kualitatif dapat diperbandingkan adalah bahwa pemakai harus
mendapat informasi tentang kebijakan akuntansi yang digunakan dalam penyusunan
laporan keuangan dan perubahan kebijakan serta pengaruh perubahan tersebut.
Para pemakai harus dimungkinkan untuk dapat mengidentifikasi perbedaan
kebijakan akuntansi yang diberlakukan untuk transaksi serta peristiwa lain yang
sama dalam sebuah perusahaan dari satu periode ke periode dan dalam perusahaan
yang berbeda. Ketaatan pada standar akuntansi keuangan, termasuk pengungkapan
kebijakan akuntansi yang digunakan oleh perusahaan, membantu pencapaian daya
banding.
“paragraf 41” Kebutuhan terhadap
daya banding jangan dikacaukan dengan keseragaman semata-mata dan tidak
seharusnya menjadi hambatan dalam memperkenalkan standar akuntansi keuangan
yang lebih baik. Perusahaan tidak perlu meneruskankebijakan akuntansi yang
tidak lagi selaras dengan karakteristik kualitatif relevansi dan keandalan.
Perusahaan juga tidak perlu mempertahankan suatu kebijakan akuntansi kalau ada
alternatif lain yang lebih relevan dan lebih andal.
“paragraf 42” Berhubung pemakai
ingin membandingkan posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan
antar periode, maka perusahaan perlu menyajikan informasi periode sebelumnya
dalam laporan keuangan.
SFAC No. 3 Elements of Financial
Statements of Business Enterprises
(Elemen-elemen
laporan keuangan entitas bisnis)
Mendefinisikan 10 elemen laporan
keuangan yang akan diamandemen oleh SFAC No. 6. Statement No. 3 ini menyebutkan
tiga pandangan akuntansi keuangan (revenue-expense, asset-liability, dan
nonarticulated) yang dibicarakan lebih lanjut dalam diskusi memorandum.
Statement ini tidak menyebutkan secara spesifik tipe konsep capital maintenance
yang digunakan maupun masalah pengakuan (realization) dan pengukuran yang
disajikan dalam laporan keuangan.
SFAC No. 3 juga mengganti istilah
earning menjadi income untuk mengindikasikan comprehensive atau perubahan total
dalam net asset yang terjadi selama periode sebagai hasil dari kegiatan operasi
perusahaan.
**Kaitannya dengan PSAK (Kerangka
Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan “Paragraf 47-48” )
“paragraf 47” Laporan Keuangan
menggambarkan dampak keuangan dari transaksi dan peristiwa lain yang
diklasifikasikan dalam beberapa kelompok besar menurut karakteristik
ekonominya. Kelompok besar ini merupakan unsur laporan keuangan. Unsur yang
berkaitan secara langsung dengan pengukuran posisi keuangan adalah aktiva,
kewajiban dan ekuitas. Sedang unsur yang berkaitan dengan pengukuran kinerja
dalam laporan laba rugi adalah penghasilan dan beban. Laporan perubahan posisi
keuangan biasanya mencerminkan berbagai unsur laporan laba rugi dan perubahan
dalam berbagai unsur neraca; dengan demikian, kerangka dasar ini tidak
mengidentifikasikan unsur laporan perubahan posisi keuangan secara khusus.
“paragraf 48” Penyajian berbagai
unsur ini dalam neraca dan laporan laba rugi memerlukan proses sub-klasifikasi.
Misalnya, aktiva dan kewajiban dapat diklasifikasikan menurut hakekat atau
fungsinya dalam bisnis perusahaan dengan maksud untuk menyajikan informasi
dengan cara yang paling berguna bagi pemakai untuk tujuan pengambilan keputusan
ekonomi.
SFAC No. 4 Objectives of Financial
Reporting by Nonbusiness Organizations
(Tujuan
laporan keuangan pada entitas non-bisnis)
Lebih menekankan pada pelaporan
keuangan entitas non bisnis yang memiliki karakter sebagai berikut:
1.
Menerima jumlah sumber daya yang signifikan dari penyumbang yang tidak
menginginkan imbalan atau proporsi ekonomi atas sumbangan yang diberikan.
2.
Tujuan utama operasinya bukan untuk menyediakan barang dan jasa demi mendapatkan
profit.
3.
Tidak ada hak kepemilikan yang dapat dijual, dipindahkan, atau menerima
distribusi sisa jika terjadi likuidasi.
SFAC No. 4 juga menyatakan bahwa
entitas non bisnis tidak memiliki indicator tunggal atas kinerja entitas
seperti pengukuran income pada sector profit oriented.
**Kaitannya dengan PSAK (PSAK 45
Pelaporan Keuangan Entitas Nirlaba “paragraf 6-8”)
Tujuan Laporan Keuangan
“Paragraf 06” Tujuan utama laporan
keuangan adalah menyediakan informasi yang relavan untuk memenuhi kepentingan
pemberi sumber daya yang tidak mengharapkan pembayaran kembali, anggota,
kreditur, dan pihak lain yang menyediakan sumber daya bagi entitas nirlaba.
“Paragraf 07” Pihak pengguna laporan
keuangan memiliki kepentingan bersama dalam rangka menilai :
a. Jasa yang diberikan oleh entitas nirlaba dan kemampuannya
untuk terus memberikan jasa tersebut;
b. Cara manajer melaksanakan tanggung jawab dan aspek lain dari
kinerjanya.
“Paragraf 08” Secara rinci, tujuan
laporan keuangan, termasuk catatan atas laporan keuangan, adalah untuk
menyajikan informasi mengenai:
a. Jumlah dan sifat aset, liabilities, dan aset neto entitas
nirlaba;
b. Pengaruh transaksi dan peristiwa lain yang mengubah nilai
dan sifat aset neto;
c. Jenis dan jumlah arus masuk dan arus keluar sumber daya
dalam satu periode dan hubungan antar keduanya;
d. Cara entitas nirlaba mendapatkan dan membelanjakan kas,
memperoleh pinjaman dan melunasi pinjaman, dan faktor lain yang berpengaruh
terhadap likuiditasnya;
e. Usaha jasa entitas nirlaba.
Setiap laporan keuangan menyediakan
informasi yang berbeda, dan informasi dalam laporan keuangan biasanya
melengkapi informasi dalam laporan keuangan yang lain.
SFAC No. 5 Recognition and
Measurement in Financial Statement of Business Enterprises
(Pengakuan
dan pengukuran dalam laporan keuangan pada entitas bisnis)
Statement ini berkaitan dengan isu
pengakuan dan pengukuran. Pada paragraph 2 disebutkan bahwa kriteria dan
pedoman pengakuan yang terdapat pada statement ini umumnya konsisten dengan
praktik yang dilakukan saat ini. Perubahan akan dilakukan secara evolusi atau
perlahan.
Ruang lingkup statement ini meliputi
format dalam menyajikan laporan keuangan. SFAC menyatakan bahwa disclosure
(pengungkapan) yang disajikan terpisah dari laporan keuangan akan sama
efektifnya bila ia disajikan bersamaan dengan laporan keuangan. Selain itu,
statement ini juga menyinggung mengenai earning dan comprehensive income. Salah
satu perhatian khusus SFAC adalah format dan penyajian perubahan ekuitas
pemilik yang tidak berasal dari transaksi dengan pemilik. Earning akan
menggantikan dan berbeda dari comprehensive income dengan mengeluarkan efek
kumulatif dalam perubahan prinsip akuntansi pada periode sebelumnya.
SFAC ini juga mengatur mengenai
kriteria pengakuan dimana untuk mengakui atau mencatat revenue dan gain, asset
yang diterima harus realized or realizable atau revenue tersebut sudah
dihasilkan (earned). Sedangkan untuk mengakui biaya dan rugi, asset yang digunakan
harus telah digunakan atau asset tersebut tidak memiliki manfaat lagi di masa
mendatang. Metode pengakuan biaya termasuk matching revenue, write- off selama
periode saat kas dihabiskan atau kewajiban terjadi untuk item biaya dalam
jangka waktu yang sangat pendek, atau prosedur sistematik rasional yang lain.
**Kaitannya dengan PSAK
(PSAK 55 Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran)
SFAC No. 6 Elements of Financial
Statements
(Elemen-elemen
laporan keuangan)
Merupakan pengganti dari SFAC No. 3
dengan sedikit perubahan pada definisi 10 elemen laporan keuangan sebagai
berikut:
1. Aset adalah probabilitas manfaat ekonomi di masa mendatang
yang diperoleh atau dikendalikan oleh entitas tertentu sebagai hasil transaksi
atau kejadian masa lalu.
2. Liabilitas (Kewajiban) adalah probabilitas pengorbanan
manfaat ekonomi di masa mendatang yang ditimbulkan dari kewajiban entitas
tertentu saat ini untuk memindahkan asset atau menyediakan jasa kepada entitas
lain di masa mendatang sebagai hasil transaksi atau kejadian masa lalu.
3. Ekuitas atau net asset adalah residual interest pada asset
sebuah entitas yang masih tersisa setelah dikurangi kewajibannya. Di perusahaan
bisnis, ekuitas merupakan kepentingan (hak) pemilik. Di entitas non profit yang
tidak memiliki kepentingan (hak) kepemilikan seperti pada entitas bisnis, net
asset dibagi menjadi tiga kelas berdasarkan ada atau tidaknya donor- imposed
restrictions yaitu: permanently restricted, temporarily restricted, dan
unrestricted net asset.
4. Investasi Pemilik adalah kenaikan ekuitas entitas bisnis
sebagai hasil dari transfer sesuatu yang berharga ke entitas tertentu
(perusahaan) dari entitas lain untuk memperoleh atau meningkatkan ekuitas
pemilik di perusahaan tersebut. Pemilik pada umumnya menerima asset sebagai
investasi, tapi dapat juga berupa jasa atau kepuasan atau konversi liabilitas
(kewajiban) perusahaan.
5. Distribusi kepada pemilik adalah penurunan ekuitas entitas
(perusahaan) yang dihasikan dari perpindahan asset, penyewaan jasa, atau
pemberian pinjaman dari perusahaan kepada pemilik. Distribusi kepada pemilik
akan mengurangi ekuitas pemilik di perusahaan tersebut.
6.
Komprehensif Income adalah perubahan
ekuitas entitas bisnis selama satu periode dari transaksi dan kejadian lain dan
keadaan yang bersumber bukan dari pemilik. Meliputi seluruh perubahan dalam
ekuitas selama satu periode kecuali yang dihasilkan dari investasi dari pemilik
dan distribusi kepada pemilik.
7.
Revenues adalah aliran masuk atau
kenaikan asset lain pada sebuah entitas atau pelunasan kewajibannya (atau
kombinasi dari keduanya) dari mengantarkan atau memproduksi barang, menyewakan
jasa, atau aktivitas lain yang menjadi aktivitas operasi utama perusahaan.
8.
Biaya adalah aliran keluar atau pengurangan asset lain atau pengeluaran yang
terkait dengan liabilitas (atau kombinasi keduanya) dari mengantarkan,
menyewakan jasa, atau melakukan aktivitas lain yang menjadi aktivitas operasi
utama perusahaan.
9.
Gain adalah kenaikan ekuitas (net asset) dari peripheral atau transaksi
insidental sebuah entitas dan dari seluruh transaksi lain dan kejadian lain dan
keadaan yang mempengaruhi entitas kecuali yang berasal dari revenue atau
investasi dari pemilik.
10.
Rugi adalah penurunan ekuitas (net asset) yang berasal dari peripheral atau
transaksi incidental sebuah entitas dan dari seluruh transaksi lain dan
kejadian lain dan keadaan yang mempengaruhi entitas kecuali yang berasal dari
revenue atau investasi dari pemilik.
**Kaitannya dengan PSAK (Kerangka
Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan “Paragraf 47-48” )
“paragraf 47” Laporan Keuangan
menggambarkan dampak keuangan dari transaksi dan peristiwa lain yang
diklasifikasikan dalam beberapa kelompok besar menurut karakteristik
ekonominya. Kelompok besar ini merupakan unsur laporan keuangan. Unsur yang
berkaitan secara langsung dengan pengukuran posisi keuangan adalah aktiva,
kewajiban dan ekuitas. Sedang unsur yang berkaitan dengan pengukuran kinerja
dalam laporan laba rugi adalah penghasilan dan beban. Laporan perubahan posisi
keuangan biasanya mencerminkan berbagai unsur laporan laba rugi dan perubahan
dalam berbagai unsur neraca; dengan demikian, kerangka dasar ini tidak
mengidentifikasikan unsur laporan perubahan posisi keuangan secara khusus.
“paragraf 48” Penyajian berbagai
unsur ini dalam neraca dan laporan laba rugi memerlukan proses sub-klasifikasi.
Misalnya, aktiva dan kewajiban dapat diklasifikasikan menurut hakekat atau
fungsinya dalam bisnis perusahaan dengan maksud untuk menyajikan informasi
dengan cara yang paling berguna bagi pemakai untuk tujuan pengambilan keputusan
ekonomi.
SFAC No. 7 Using Cash Flow
Information and Present Value in Accounting Measurement
(Penggunaan
informasi aliran kas dan nilai sekarang dalam pengukuran akuntansi)
Statement No. 7 lebih menekankan
pada isu pengukuran spesifik daripada isu konseptual yang lebih luas, karena
itu statement ini dapat dilihat sebagai bagian dari Statement No. 5. SFAC No. 7
digunakan pada situasi dimana current market value tidak tersedia sehingga
harus menggunakan estimasi aliran kas di masa mendatang.
Present Value Measurement
Poin penting mengenai pengukuran
asset adalah pengukuran present value yang digunakan untuk mensimulasi fair
value. Discount rate harus meliputi risiko dan ketidakpastian yang
merefleksikan pengukuran pasar terhadap nilai asset. Jika asset tertentu
memiliki beberapa kemungkinan aliran kas dalam beberapa tahun, maka aliran kas
yang diekspektasi harus menentukan probabilitas aliran kas individu tertimbang.
Liability Measurement
Poin penting dalam pengukuran
liabilitas adalah discount rate harus diikutkan dalam perhitungan credit
standing perusahaan.
Pengukuran asset dan liabilitas
sesuai ketentuan SFAC No. 7 dinilai tidak konsisten. Sebuah asset dapat
dipandang dan dinilai secara terpisah dari entitas perusahaan, tapi pada saat
mengukur liabilitas tidak dapat demikian.
**Kaitannya dengan PSAK (PSAK 55)
Pengukuran Awal Aset Keuangan dan
Liabilitas Keuangan
“paragraf 43” Pada saat pengakuan
awal aset keuangan atau liabilitas keuangan, entitas mengukur pada nilai
wajarnya. Dalam hal aset keuangan atau liabilitas keuangan tidak diukur pada
nilai wajar melalui laba rugi, nilai wajar tersebut ditambah biaya transaksi
yang dapat diatribusikan secara langsung dengan perolehan atau penerbitan aset
keuangan atau liabilitas keuangan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar