When you
know it’s time to end it, but you don’t wanna it end.
Saya tidak berpikir akan membenci
tipe yang seperti itu. Memang, suka dan tidak suka itu beda tipis. Bagaimana
saya menaruh respek terhadap orang yang penurut, tapi terlalu penurut juga
tidak baik. Apa itu hanya sekedar topeng sosial? Atau dia tidak punya tujuan
dan memang tipe yang tak tentu arah?
Tidak tentu arah. Saya muak
mendengarnya. Bagaimana ia bisa hidup tanpa arah dan tujuan yang jelas?
Seolah-olah tidak memperjuangkan dirinya dan hidupnya sendiri. Sedangkan saya
sendiri, sibuk dengan diri saya, sibuk mengatur bagaimana harus mencapai tujuan
saya, struggling untuk tetap hidup agar bisa sampai pada tujuan saya. Lalu
bagaimana ia dengan mudahnya berjalan tanpa arah? Tanpa tekanan, tanpa beban,
tanpa terbelenggu apapun. Bebas. Ia bebas. Dan ia membebaskan setiap orang yang
datang dan pergi dari hidupnya. Apa ini benci, muak… ataukah iri? Iri karena
diri ini tidak sebebas dirinya, tidak sebelenggu dirinya yang bahkan bodoh dan
terlihat tidak tahu apapun, tapi hidupnya benar-benar tanpa beban.
Tidak. Saya kan memang iri
orangnya. Tapi, ini hidup yang saya pilih. Saya tidak ingin sebebas itu jika
tidak mendapatkan apapun. Semua pilihan ada tujuannya, ada akhirnya, ada
konsekuensi yang harus ditanggung. Dia bebas, tapi dia tidak memiliki apapun,
tidak ditekan apapun dan tidak terbelenggu apapun. Sedangkan saya, yang memilih
untuk mencapai tujuan saya, siap menerima konsekuensi ditekan, dibelenggu dan dibebani,
demi memiliki apapun yang saya mau, yang saya inginkan dan yang saya impikan.
Lihat saja sisi buruk
dari dirinya. Ia tidak ingin menghadapi konsekuensi dan resiko dalam hidupnya,
menandakan ia tak kemana-mana. Sedangkan kamu? Iya, kamu. Mau mengambil resiko
yang ada, demi mencapai tujuan kamu. Iya. Benar. Itu pilihan kamu, diriku
tersayang. Beban dan resiko ini harus ditanggung untuk mencapai tujuan jangka
panjang. Jangan mau mengikuti apalagi menjadi dirinya yang mengelak pada
tanggung jawab dan beban di dunia ini. Ia bahkan tidak tahu dan tidak memahami
dirinya sendiri. Kamu adalah kamu, yang punya kekuatan tersendiri dalam
mencapai tujuanmu. Kelak kamu akan tertawa atas pedih dan perih luka hari ini.
Suatu saat kau akan tersenyum sudah sampai diatas sana dan tertawa bersyukur
tidak seperti dirinya yang bebas dan tanpa arah. Kamu bisa, karena kamu percaya
pada dirimu sendiri, dan pada orangtua-mu yang mengajarkan padamu arti tanggung
jawab, dan beban hidup yang sesungguhnya. Gunakan akal sehatmu. Kamu sudah
punya panduanmu sendiri. Maka laksanakan. Kita lihat siapa yang tertawa paling
akhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar